Mari Mencegah Kanker Serviks bersama Prodia


Pemberitaan yang massif saat Julia Perez menghadapi penyakit Kanker Serviks, secara tidak langsung makin meningkatkan kesadaran (awareness) masyarakat akan bahaya Kanker Serviks. Selama ini kita tidak terlalu sadar padahal kanker Serviks sudah menjadi penyakit pembunuh terbanyak pada wanita di Indonesia. Bayangkan, 26 wanita Indonesia kehilangan nyawa tiap harinya akibat kanker serviks. Secara pribadi, saya sendiri sudah mengenal  penyakit kanker serviks sekitar 10 tahun lalu,  saat isteri salah seorang teman kerja terdiagnosa kanker serviks. Baru stadium 1, kata dokter masih bisa diobati, demikian kata teman saya.  Namun kenyataannya kanker ini makin mengganas dan menaikkan levelnya serta menggerogoti kesehatan istri teman.

jupe
SUmber: Grid Id

“Semua ini salah saya,” penyesalan sang suami yang ikut-ikutan jadi kurus karena tidak tahan melihat penderitaan isterinya. Penyesalan yang terlambat karena akhirnya sang isteri meninggal. Pengalaman teman ini serta pengakuan Julia Perez yang menyalahkan pasangannya sebagai penyebab kanker serviks membuat pemahaman saya mengenai penyebab kanker serviks adalah berkaitan dengan adanya hubungan kelamin. Makanya saya heran saat kontrol rutin diabetes ke dokter, bu dokter menyarankan untuk Pap Smear atau IVA yang merupakan test untuk mendeteksi kanker serviks.

“Saya kan tidak aktif secara seksual tiga tahun ini, dok,” demikian saya katakan.

“Jangan salah, ada pasien saya berusia 73 tahun terdeteksi kanker serviks loh,” jelas bu dokter.

Komplikasi-Kanker-Serviks.jpg
Sumber:Kanker-AutoImun

Dokter melanjutkan bahwa jika saya tidak terdeteksi  kanker serviks maka saya diminta untuk melakukan vaksinasi. Proses vaksinasinya sendiri ternyata dalam 3 tahap yang dilakukan per 2 bulan.

petscan

Tak lama setelah kontrol rutin tersebut, saya menerima telpon dari adik yang dau minggu lalu usai menjalankan operasi pengangkatan rahim karena ada miom.

“Kak, saya dapat info dari Rumah Sakit bahwa hasil pemeriksaan jaringan pasca operasi menunjukkan ternyata ada sel kankernya. Maka saya diminta untuk melakukan Pet Scan. Temani ya, “katanya.

Jadilah pada hari yang ditentukan, saya menemaninya untuk menjalankan Pet Scan di suatu Rumah Sakit lain karena RS tempat adik menjalankan tidak memiliki peralatannya. Saat memasuki ruangan yang memfasilitasi berbagai test kesehatan tersebut, alangkah terkejutnya kami demi melihat banyaknya pasien di sana. Padahal biaya untuk melakukan Pet Scan cukup mahal, sekitar Rp. 12 juta. Salah satu fungsi Pet scan ini adalah untuk mendeteksi apakah ada sebaran kanker di seluruh tubuh. Wah saya lantas berpikir seandainya mereka melakukan deteksi dini, mungkin mereka tidak perlu berada pada antrean untuk menjalankan Pet Scan. Sementara adik di scanning, saya menanti di ruang tunggu dan berbincang-bincang dengan para pasien yang menanti giliran. Kebanyakan pasien wanita di sana jika tidak menderita kanker payudara ya kanker serviks. Dua jenis kanker pembunuh terbanyak bagi wanita di Indonesia. Rerata, penyakit tersebut diketahui saat sudah berada pada stadium lanjut. Apa boleh buat masyarakat Indonesia memang belum menyadari keberadaan penyakit yang disebabkan oleh Human Papilloma Virus (HPV) ini.

prodiawomen

Salah satu pasien yang sedang menanti giliran berusia 80 tahun dan menderita kanker serviks.Ini luar biasa dan seakan mematahkan fakat bahwa penyebab kanker serviks adalah hubungan seksual mengingat usia beliau yang sudah lanjut dan suaminya pun sudah meninggal cukup lama. Di lain pihak,, seorang pasien lain bercerita bahwa mayoritas pasien kanker serviks di suatu RS Pemerintah merupakan gadis-gadis belia pada rentang usia 12 tahun hingga 15 tahun. Konon mereka sudah terbiasa melakukan hubungan seksual dengan lawan jenisnya baik sekedar untuk having fun dengan lelaki sebaya ataupun dengan lelaki lebih tua untuk mendapatkan bayaran. Sungguh fenomena yang memprihatinkan. Untuk membebaskan Indonesia dari kanker serviks, diperlukan tindakan yang terintegrasi dan berkesinambungan baik dari pemerintah maupun setiap lapisan masyarakat. Salah satunya dengan menyebarkan informasi dan kesadaran seputar kanker serviks dan pencegahannya melalui deteksi via Pap Smear/ IVA dan melakukan vaksinasi HPV. Sebenarnya penyebaran informasi dan kesadaran seputar kanker serviks tidak hanya diberikan pada perempuan, lelaki yang bisa dianggap sebagai penyebar virus HPV seharusnya juga perlu diedukasi. Tapi masalahnya, bisakah kita berharap banyak pada kaum pria. Maka dalam hal ini, perempuan harus bisa menjaga diri dengan sebaik-baiknya.

prodiaealthcare

PT Prodia Widyahusada Tbk (Prodia) yang merupakan pelopor sekaligus laboratorium klinik di Indonesia memiliki fasilitas lengkap teknologi diagnostik untuk pencegahan dini maupun pencegahan lanjutan. Dan menyadari bahwa populasi perempuan menempati nyaris 50% dari total penduduk Indonesia dan wanita kelas menengah umumnya  juga merupakan pengambil keputusan dalam keluarga  maka Prodia mendirikan Prodia Women’s Health Centre (PWHC) yang menyediakan banyak pilihan bagi pelanggan wanitanya. Dari upaya pencegahan dini (primary prevention) berupa penyuluhan hingga vaksinasi. Lebih jauh lagi dengan pencegahan lanjutan (secondary prevention) seperti medical check up, test laboratorium lengkap dan pap smear diagnostic center.  Dengan adanya Health Centre khusus Wanita ini, diharapkan perempuan merasa nyaman dalam menjaga dan merawat kesehatannya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s