Lelaki Cadangan Sebelum Bercerai


Menjalani hidup itu seperti mengemudi perahu di lautan lepas. Kadang berjalan lancar saat angin berhembus searah dengan tujuan dan deburan ombak menemani perjalanan. Tapi  tidak jarang gelombang besar disertai topan dan badai menghadang. Dan kitapun tidak yakin apakah kita akan bertahan melewatinya. Begitulah yang saya rasakan saat memutuskan untuk mengakhiri pernikahan dengan suami. Mana ada orang menikah bermimpi untuk bercerai apalagi pernikahan baru berusia setahun  makanya rasa sedih dan nelangsa begitu pekat menghunjam.  Perasaan yang perlahan menghilang  saat  masuk dan  melihat suasana di dalam gedung Pengadilan Agama Jakarta Selatan tak kalah riuhnya dengan suasana stasiun kereta. Saya tersadar  ternyata tidak sendiri,  banyak orang yang  pernikahannya di ambang kehancuran. Usai mencari informasi mengenai prosedure pengajuan gugatan perceraian. Saya memutuskan  untuk meminta bantuan pengacara perceraian yang banyak berkantor di sekitar  PA.

ummi online
sumber: ummi online

Saya tak bisa menahan tawa saat sang pengacara sembari mempersiapkan berkas pengajuan gugat berkata, “Ibu, jika kelak resmi bercerai. Maukah saya perkenalkan dengan para duda klien saya? Mereka minta diperkenalkan dengan perempuan yang senasib dengan mereka.” Saya jawab bahwa sat ini memilih untuk berkonsentrasi dengan proses yang akan saya hadapi. Ketika saya mengucapkan basmallah saat akan menandatangani berkas-berkas, sang pengacara menegur. “Layakkah menyebut nama Allah ketika akan melakukan perbuatan yang dibenciNya?” Pengacara melanjutkan ucapannya, ”Sebaiknya Ibu mengucapkan kata Astagfirullah (mohon ampun Allah). Nanti juga kalau sudah diputus bercerai oleh hakim. Jangan malah bilang Alhamdulillah ya.” Makjleb mendengarnya. Bersyukur bertemu dengan pengacara yang juga berfungsi sebagai comblang sekaligus penasehat spiritual .

poliandri

Usai berkas diajukan, saya mendapat jadwal sidang I. Saat hadir pada hari H, saya mendapat nomor berbilang ratusan untuk giliran persidangan.  Saling bertukar cerita dengan seorang wanita tua yang duduk bersebelahan, Ibu itu menyimpulkan, “Kamu beruntung setahun menikah sudah tersadar kalau menjalankan pernikahan yang salah. Anak saya itu perlu waktu empat belas tahun untuk tersadar. Padahal suaminya selain tak menafkahi juga ringan tangan. Sekarang cucu saya tidak bisa menerima orangtuanya akan bercerai.”  Putri ibu tersebut adalah seorang eksekutif keuangan di perusahaan besar. Saya hanya bisa berpikir mungkin wanita itu memiliki toleransi dan hati yang seluas samudera. Tak kalah tragisnya ketika melihat gadis belia menggendong bayinya juga berada dalam kantor Pengadilan Agama tersebut. Saya berbicara dengan ibu si gadis yang mendampingi. Pernikahan dini dan langsung ke PA saat bayi baru berusia 14 hari. Tragedi yang menyedihkan, masih akan ada tahun yang mengular di depan saat membesarkan si bayi. Sementara si ibu saat ini baru akan memasuki bangku kuliah.

Tiga kali sidang tanpa kehadiran suami, bapak hakim meminta saya membawa dua orang saksi untuk persidangan berikutnya. Jadilah pada sidang ke empat saya datang bersama Mini (pembantu) dan Riris. Riris adalah putri mantan pembantu yang sejak lahir siudah diasuh kami sekeluarga bahkan tidurpun bersama saya hingga  tamat SMA. Ketika itu Riris berusia duapuluh satu tahun dan kuliah di tingkat terakhir. Beberapa hari sebelumnya saya sudah memberikan copy  berkas gugatan serta sedikit penjelasan. “Mini nanti kalau ditanyain pekerjaannya sama pak Hakim, bilang aja assisten rumah tangga.” Ah engga bu, saya kan pembantu. Kalau assisten kan yang nyangking laptop. Lagian napa sih pake diganti istilahnya, wong pekerjaannya sama saja.  Cerdas juga si  Mini. Kami bertiga duduk menanti giliran. Ada seorang perempuan muda di sebelah kami menyapa dan bertanya. Saya menjelaskan bahwa saat ini sudah dalam proses mengajukan saksi. Wanita itu langsung  memotong penjelasan  hubungan saya dengan Riris, “Ibu tidak sedang bercanda kan? Mana ada orang sebaik itu. Waras engga sih?.” Saya speechless mendengar ketika perbuatan baikpun dpertanyakan kewarasannya?  Tapi saya merasa tak perlu menjawab  dan segera beranjak ke kantin untuk membeli air mineral. Ketika kembali ke tempat duduk, wanita itu sudah tidak ada. Mini berbisik, “ Tadi dia masih ga percaya bu. Jadi saya jelaskan kalau Noya anak saya juga anak asuh ibu karena tiap minggu dibelikan susu formula.” Malah baru tahu saya karena selalu membelikan susu formula bagi Noya sejak Mini bekerja di rumah hingga sekarang sudah empat tahun bersama kami maka suami Mini mengajarkan bahwa saya adalah ibu susuan/ angkatnya Noya.

Ketika tiba giliran kami ke dalam ruang sidang. Mini dengan lancar menjawab pertanyaan hakim. Saat giliran Riris menjelaskan dirinya terkait hubungannya dengan saya, ternyata pak hakim memberikan reaksi yang sama dengan wanita muda tadi, “Yang bener, emang ada perempuan seperti ibu ini?”. Loh buktinya kan saya duduk di depan pak hakim, saya menyela.   Persidangan berjalan singkat. Hakim mengabulkan permohonan saya untuk bercerai sembari menghibur, “Lain kali jangan salah pilih suami ya bu. Saya yakin wanita sebaik anda akan menemukan jodoh yang  lebih baik. “Lagi-lagi saya kehilangan kata.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s