Kenapa Selingkuh?


Pagi itu saat sedang menyimak acara siraman rohani Mamah Dedeh dan Aa di televisi, saya langsung terheran mendengar pertanyaan  seorang ibu, “Mah, doa apa yang harus dipanjatkan supaya pasangan kita ngga selingkuh?”. Mungkin saya terlalu termakan image bahwa ibu tersebut adalah bagian dari suatu majelis taklim yang notabene merupakan kelompok yang tekun mendalami ajaran agama. Jika ibu tersebut berada dalam lingkungan yang religus, saya lantas mengasumsikan pastinya suaminya sama religius dengan si ibu. Apalagi dalam benak saya tertancap adagium  Cinderela Story, jika suatu pasangan menikah maka “they live happily ever after.” Jelas ini hanya menandakan kenaifan saya yang tak berubah sejak pertama mendengar istilah dua dekade silam.

republika
sumber: republika

Tepatnya  sekitar tahun 1994 ketika sedang menempuh pendidikan Magister Manajemen pada suatu universitas negeri Jakarta. Tiba-tiba istilah selingkuh muncul dalam kehidupan metropolitan. Jangan salah pengertian dan beranggapan banyak perselingkuhan di bangku kuliah itu. Sama sekali tidak. Teman-teman kuliah yang sangat heterogen karena berusia dari 25 tahun hingga  60 tahun itu sangat kompak dan kekeluargaan sekali.  Teman-teman berumur biasanya dikirim perusahaan tempatnya bekerja untuk menambah bekal pengetahuan agar bisa memberikan kontribusi lebih besar pada perusahaan tempat kerjanya. Dengan usia sudah cukup banyak umumnya mereka sudah menikah  dan menempati posisi manajemen menengah bahkan ada yang di manajemen puncak pada  perusahaannya. Jadi deh kami yang saat itu bisa dibilang termasuk generasi cupu “menginterogasi” mereka mengenai perselingkuhan di lingkungan kerja. “Ya itu tidak bisa dihindari soalnya kita meluangkan 8 jam dari waktu terbaik dalam sehari di kantor bukan di rumah.  Delapan jam itu kan standard waktu kerja padahal kenyataanna mana ada orang kantoran yang bekerja pas 8 jam. Yang ada kan pada lembur. Terus kita ketemu dan bekerja sama dengan teman kantor yang lawan jenis jadi kalau nantinya timbul ketertarikan dapat dimengerti.”

Haaah mendengar penjelasan kalem dari Chandra  yang alim sampai-sampai dipanggil pak pendeta jadi heran.  Saking penasarannya saya jadi melanjutkan pertanyaan, “Jadi mungkin aja suatu saat nanti kamu juga selingkuh?”. Dengan kalemnya Chandra menjawab, “Selingkuh bukan tujuan tapi jika suatu saat terjadi, saya siap.” Gubraak.

Siap berselingkuh?

Perkembangan issue perselingkuhan makin menjadi dalam dunia saya. Terutama saat memasuki dunia kerja usai meraih gelar Magister Manajemen. Kasus pertama tentang klien yang cantik, langsing dan gesit dengan penampilan super duper keren sesuai dengan jabatannya sebagai  Assistant Vice President suatu perusahaan asing. Seringnya kami bertemu dan berbincang-bincang membuat saya dan teman-teman makin terkagum-kagum dengan mbak AVP yang berusia 40 tahun. “Empat puluh tahun? Wow tetap cantik gini mbak. Mana suaminya cakep lagi. Perfecto banget hidupmu.” Lagi-lagi sekarang  merasa betapa naifnya saya dan teman-teman. Ketika itu kami berusia akhir duapuluhanan jadi kebayangnya jika kami menginjak usia kepala empat pasti dah berkeriput dan menggelambir habis. Padahal pas menginjak usia kepala empat ternyata penampilan kami rasanya ga jauh beda dengan mbak AVP itu. Lah iya duit dah banyak, rajin ngegym dan perawatan salon from  head to toe. Belanja sana sini, berburu sale sehingga keren tak harus mahal. Nah kenaifan yang lain adalah saat melihat foto keluarga bahagia dari mbak AVP. Padahal sekarang kalau dipikir-pikir mana ada sih orang berfoto keluarga dengan ekspresi cemberut. Nah reaksi kami berikut ini saya rasa bukan reaksi yang naïf. Ketika sembari makan siang, mbak AVP bilang gini, “Ih gue pingin tahu deh rasanya selingkuh tuh gimana ya?”. Kami   (kami itu mewakili saya dan boss serta sahabatnya yang bekerja dalam perusahaan yang sama) langsung ternganga, “Ih mbak ngapain selingkuh? Kan rumah tangganya baek-baek aja. Semua cowok terkagum-kagum ma mbak?”.

Nah itu cyyyyn, pengen deh ngerasain diinginkan oleh lelaki lain tuh gimana ya rasanya, kata mbak AVP. Kami bertiga main sepak-sepakan kaki di bawah meja. nih orang over dosis dalam cari masalah ya. Rumah tangga baik-baik malah mau diwarnai selingkuh. Usai dari percakapan itu nilai mbak AVP langsung turun drastis di mata kami. Sekitar dua bulan kami tak bertemu dan ketemu lagi penampilannya dah beda. Menurut penilaian kami bertiga ( trio rumpi ), “eh kok mbak AVP tampangnya loyo gitu ya?” Jangan-jangan kecapekan selingkuh, kata boss. Udah deh kalo ketemu topic seru gini kami langsung cekikikan ga beres.

Pengalaman mengetahui ada orang yang siap selingkuh tak berhenti di sini saja. Pas dikirim mengikuti in house training yang diselenggarakan  Head Office selama beberapa hari, kembali dapat kejutan masalah ini. Kali ini Manajer Training yang  supel dan humoris  bikin story, “Saya selalu memakai cincin kawin ini. Beda dengan cowok-cowok centil yang suka menyembunyikan cincin kawinnya saat main mata dengan cewe. Cincin ini merupakan statement, saya sudah nikah jadi kalau lo mau gue pacari berarti elo harus tau batasnya. Bahwa gue gak akan meninggalkan pernikahan. Jadi elo harus terima gue apa adanya.” Huuuuah bengong lagi-bengong lagi dah dibuatnya.

Masih di kantor yang sama, sohibnya bu Boss yang punya posisi setara sebagai manajer (gak seperti saya yang anak baru berpangkat officer) cerita saat makan siang bersama, “Nek, siaal deh tuh si Lulu (anak buah dari teman bu Boss) kemarin Jum’at minta gue jadi alibinya. Dia pamit ma lakinya kalau dikirim training ke Puncak selama hari Sabtu dan Minggu. Padahal dia ke Singapore ma Lukman.”

Bujug deh Lukman, bini orang disamber aja, bu Boss geleng-geleng kepala. Jadi Lukman itu teman mereka sesama manajer di perusahaan tempat kami bekerja. Lukman masih single dan dikenal sebagai the most eligible bachelor di perusahaan karena selain paras ganteng dan telah memiliki jabatan. Lukman terlahir sebagai anak tunggal dari keluarga tajir terkojir-kojir. Orangtuanya sudah meninggal maka Lukman hidup bebas sekehendaknya. Waktu statusnya masih trainee, dia sudah bertunangan sekitar dua  tahunan. tentunya sang tunangan dengan harapan usai Training, Lukman akan menikahinya. Guess what? Lukman bilang ke tunangannya bahwa dia terkena ikatan dinas 5 tahun tidak boleh menikah. Dan dia minta tolong bu Boss untuk mengkonfirmasi jika ditanya tunangannya. Bu Boss langsung menolak, “Macam mana lelaki kena ikatan dinas tidak boleh menikah 5 tahun? Kau pikir kau pramugari?”. Akhirnya Lukman putus dari tunangannya dan mulai melanglang buana diantara wanita.  Petualangannya memang niat benar jadi targetnya spesifik pada perempuan yang menyandang status isteri orang. Bu Boss dan sohibnya langsung menggosip, “Iya dia targetnya bini orang biar kagak ada bekasnya. Kalo sama perawan/ gadis kan ntrminta dikawin.”  Karena pembicaraan cukup seru jadi saya si anak baru ikutan nyamber, “Gak minat daftar buk?”. Amiit, amiiit, langsung mereka yang sudah menyandang status isteri orang ketok-ketok meja.

Dalam kasus Lukman tersebut yang jadi teman kencannya bukan hanya Lulu dan sepertinya sudah ada kode etik bahwa hubungan mereka adalah hubungan tanpa status. Just for fun and sex. Apakah ini yang namanya Selingkuh ( Selingan khusus tapi Keluarga Utuh )?

Well ternyata banyak juga orang awam yang siap selingkuh ya. Maksud saya awam tuh karena mereka berpenampilan biasa saja bukan model playboy atau player. Really just ordinary people who happen to be around our neighberhoud or our friends.

Tekanan tuk  Berselingkuh.

Banyak juga kasus perselingkuhan terjadi karena frekwensi pertemuan yang intense dibarengi dengan durasi yang lama antara dua lawan jenis. Pepatah lama yang mengatakan witing tresno jalaran seko kulino  ternyata masih relevan hingga saat ini. Maka harusnya disadari bahwa pertemuan dua insan lawan jenis yang intense bisa menimbulkan potensi peningkatan kualitas hubungan. Jika itu terjadi antara lelaki dan perempuan single tentunya tak ada masalah.  Namun jika terjadi pada salah satu yang telah memiliki pasangan,  potensi terjadinya selingkuh itu besar. Apalagi jika salah satunya memilki kebutuhan pada perhatian, bimbingan dan kasih sayang.

Kiranya orang yang sudah terikat pernikahan selalu menjaga komitmen pada pernikahannya.  Pernikahan  merupakan ikatan suci yang  dibuat dihadapan sang Khalik apapun agamanya. Maka bagaimana bisa janji suci itu dikhianati?  Apakah tidak terlintas rasa takut akan dosa yang dilakukan. Dosa melanggar janji suci pernikahan dan perzinahan.  Memang menjaga pernikahan itu sulit, perselisihan pendapat acap menyulut emosi. Ditengarai masalah anak, tagihan dan “drama” bisa memadamkan komunikasi dan gairah seksual antar pasangan. Akibatnya  berpaling pada orang lain menjadi alternatif yang dipilih. Dan terjadilah perselingkuhan.

instisari.jpg
sumber: intisari online

Drama? drama apaan? Mungkin ada yang menganggap lebay alasan drama menyurutkan  gairah seksual dan komunikasi antar pasangan. But unfortunately I’ve been there. Saya syok sekali pas suami mulai sering menuduh saya bermain api dengan temannya. Ini ridicilous banget  soalnya perkawinan kami masih seumur jagung dan saya hijrah dari Jakarta ke Gresik tempat mukim suami. Dia tahu bahwa saya nyaris tidak punya teman di Gresik, Tuduhan yang dilontarkan terus menerus dan jika dibantah atau coba dijelaskan seperti berhadapan dengan tembok membuat saya speechless. Berhadapan dengan tembok, saya nyaris kehilangan arah. Saya sendiri di Gresik dan ketika ingin berpaling  ke sahabat di Jakarta, ternyata dia malah bermain api dengan suami. Ajibnya mereka berhubungan via BBM dan jauh dari kemungkinan bakalan kopi darat antar kota. Apalagi suami kemudian mengaku bahwa dia mendekati sahabat tersebut untuk bikin saya sakit hati. Dia berharap sahabat saya akan cerita kelakuan nakal suami makanya saat gayung bersambut, permainan sudah tak asik lagi. Lelah dengan semua ini akhirnya saya mengajukan perceraian. Beberapa kali suami meminta saya membatalkannya tapi saya terbayang kembali akan komunikasi ala berhadapan dengan tembok itu. Standardnya yang tidak masuk akal dan cara membalas dendamnya bisa bikin gila.  Usai resmi bercerai, saya mendiskusikan hubungan kami dengan beberapa teman dekat.  baru ketemu jawaban paling pas, “Suamimu itu inferior. Dia minder dengan penghasilan kamu yang jauh lebih besar dan kamu sudah bertindak sebagai isteri yang baik. Anak-anak (tiri) sayang sama kamu, mertua sayang sama kamu. Jadi deh dia cari-cari kesalahan kamu.  Dia sebenarnya kaget kamu sampai menggugat cerai sebab biasanya kamu penurut.”

Yap beginilah drama yang saya hadapi. Ada saja orang ( bukan hanya mantan suami tapi para suami lain bahkan juga para isteri ) yang sibuk membuat drama dalam rumah tangganya. Mereka tidak ingat bahwa hidup itu sulit kenapa malah tambah dipersulit? Manusia memiliki hati harusnya sentuhlah hati bukan kau jadikan sparring partner bak petinju. Saya jadi ingat salah seorang teman MM yang jantuadi direktur BUMN, ndilalah jumpa lagi karena BUMN itu jadi klien perusahaan tempat saya kerja.  Beliau terkenal sering bermain api (bukan seperti penari api di Bali ya ) jadi saya “menegurlah” kelakuannya.

“Bini gue itu cemburuan banget. Tiap saat menuduh selingkuh padahal ga ada selingkuh. Apalagi kalau gue tugas luar kota, wah bisa tiap lima menit telpon. Mending kalau telponnya baik-baik, ini ngamuk-ngamuk sampe capek rasanya. Akhirnya gue putuskan selingkuh aja sekalian. “ jawabnya.  Saya cuma bisa terdiam karena cukup percaya akan perkataan teman tersebut. Hanya bisa menyayangkan sikap sang isteri yang drama banget.

Pilih Jajan atau Poligami?

Menurut Gubernur Ahok, lebih baik main pelacur daripada selingkuh sebab dalam selingkuh ada yang tersakiti. Pak Ahok bicara dalam konteks penggusuran kali Jodoh yang merupakan lokalisasi prostitusi. Dimana Pak Ahok sebenarnya tidak keberatan ada kawasan pelacuran namun sayangnya tak ada peraturan yang menunjang. Well pendapat itu tidak salah dalam konteks memenuhi kebutuhan seorang lelaki akan  gairah seksual yang tidak bisa dipenuhi oleh pasangan resminya. Pelacur jadi solusi tanpa pusing kepala tanpa drama (asal pakai kondom). Lebih baik beli sate daripada pelihara kambingnya, mungkin ungkapan ini menggambarkan dengan tepat. Tapi jika hati masih bicara masalah dosa maka dalam agama Islam ada pintu darurat yang disediakan yakni Poligami. Banyak perempuan muslim yang bilang ga siap kalau dipoligami. Yah, saya pikir sebaiknya belajar kembali soal ketentuan Poligami ini. Ini ayat al Quran loh, mosok mau tebang pilih ayat?

Bukankah dalam ketentuan Islam, lelaki diperbolehkan untuk memiliki isteri dua, tiga atau empat asalkan bisa bersikap adil? Bukan sesuatu yang mustahil sebenarnya sebab  pengacara kondang OC Kaligis dan Eyang Subur  malah beristeri sembilan atau sepuluh. Para isteri bisa hidup dengan rukun bahkan tinggal serumah. Saya pernah bertemu relasi, beliau memiliki empat isteri dan dua puluh anak yang kompak dan bahu membahu membesarkan perusahaan keluarga.  Owner perusahaan pertama tempat saya kerja adalah seorang konglomerat yang memiliki isteri resmi sembilan orang, belum simpanan yang berbentuk siocia (nona – bahasa mandarin) yang berderet.

Ada satu kuncinya mengapa pernikahan dengan banyak isteri tersebut bisa langgeng dan perlu suatu bab tersendiri untuk membahasnya.

 

 

Bukankah lebih baik tidak selingkuh.

Seorang teman pria menanyakan apa yang sedang saya tulis saat ini. Sebuah buku tentang perselingkuhan, demikian jawaban saya. Reaksinya cukup mengejutkan, “Kenapa sih harus menulis perselingkuhan? Bukankah seharusnya  pernikahan tuh tidak pakai selingkuh? Jika sudah menikah bukankah seharusnya yang dilakukan  adalah mengupayakan segala sesuatu agar rumah tangga bahagia, sejahtera dan utuh?”

Teman saya tersebut sama sekali tidak salah. Malah saya sepemikiran dengannya tapi  teman tersebut juga naïf (seperti saya juga) bahwa ketika sepasang anak manusia memasuki pernikahan berarti mereka hidup bahagia bersama selamanya (they live happily ever after). Justru sepasang anak manusia tersebut mulai memasuki episode baru dalam hidupnya yang bisa saja berupa bumi gonjang ganjing

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s