Jeritan Hati Wanita yang Belum Bersuami


Jeritan Hati Wanita yang Belum Bersuami

poligami
sumber: meme jeng yuni

Wahai para bapak-bapak yang belum sadar berpoligami. Anda diciptakan Allah ta’ala sebagai imam yang mampu memimpin 4 orang isteri. Kenapa anda tidur dipelukan satu isteri saja. Anda mampu!!! Allah ta’ala maha kaya, apakah anda tidak sadarbahwa perbandingan anda dengan kami sudah mencapai 1:7? Kami mau dikemanakan? Mana sunnah Nabimu?  Mana ilmumu?

Takut miskin itu syirik. Takut isteri itu syirik…..dst.

Demikianlah bunyi Whatsapp yang diedarkan seorang perempuan dalam grup WA yang anggotanya kebanyakan bapak-bapak.  Bisa dibayangkan reaksi para bapak setelah membaca WA tersebut. Yang pertama pastinya takjub akan  keberanian si mbak dan mungkin  mempertanyakan apa yang dipikirkan si mbak ketika membuat WA tersebut. Seorang bapak membagikan  WA ini pada isterinya yang kebetulan teman saya dan tentunya  bukan untuk meminta izin isterinya menikahi  mbak itu.  Teman saya yang seorang muslimah yang taat hanya berkomentar, “Jika suatu saat suamiku ingin berpoligami, carilah perempuan dan bukan dicari perempuan.”

Tidak tertutup kemungkinan ada lelaki yang menerima tawaran WAnya. Lelaki tersebut pasti sangat tertarik dengan  tawaran eh pertanyaannya “kenapa anda tidur dipelukan satu isteri saja. Anda mampu ! ( tidur dipelukan 4 isteri, pen ) Yah kok yang tersurat sekedar menjadi teman tidur yang bersifat majemuk? Berpoligami berarti adil tidak hanya sekedar menjadi teman tidur. Tapi juga dalam menafkahi dan membagi waktu diantara para isterinya. Dalam membimbing anak-anak yang terlahir karena pernikahan-pernikahan tersebut. Poligami bukan kewajiban, poligami adalah suatu kebolehan bagi yang mampu untuk bersikap adil. Saya bukan orang yang anti poligami, bisa dilihat dalam beberapa artikel di buku ini. Apalagi ketentuan poligami sudah termaktub dalam ayat suci al Quran bagaimana mungkin saya yang mengaku Islam membantah ketentuan tersebut. Namun saya sungguh gagal paham dengan keberanian mbak itu.

Dan bagaimana dia bisa menemukan data bahwa perbandingan antara jumlah lelaki dan perempuan adalah 1:7. Sementara kenyataannya data BPJS dari tahun ke tahun menunjukkan rasio pria di usia produktif makin banyak dibandingkan perempuan di usia produktif. Jadi ada pria yang terancam tak mendapatkan jodoh di Indonesia. Tahun 2010 BPS mencatat total jumlah penduduk 237.641.326 jiwa. Ini dikategorikan dalam 3 bagian yakni jumlah penduduk berusia di bawah 15 tahun, berada di rentang usia 15 – 64 tahun dan di atas 64 tahun. Perbandingan dalam kategori usia 15 tahun adalah laki-laki 35.298.880 jiwa dan perempuan 33.304.383 jiwa. Artinya akan ada 1.994.497 jiwa pria muda dibawah usia 15 tahun yang tidak kebagian pacar. Perbandingan penduduk berusia di atas 64 tahun, jumlah laki-laki 5.362.873 jiwa dan perempuan 6.622.078 jiwa.

Sedangkan perbandingan jumlah penduduk perempuan dan laki-laki di usia produktif ( dalam kisaran usia 15-64 tahun ) tercatat laki-laki berjumlah 78.969.160 jiwa sementara jumlah perempuan 78.083.952 jiwa. Artinya sebanyak 885.208 pria akan terancam jadi jomblo seumur hidup. Jumlah lelaki jomblo bakal bertumbuh terus jika kita ingat penduduk usia di bawah 15 tahun akan bertumbuh dewasa padahal dalam kategori tersebut da surplus dua juta lelaki.

Saya lantas teringat pada kisah sendiri saat belum menikah, biasalah selalu ada sesi girls day out bersama teman-teman cewek yang belum menikah sebab yang sudah menikah sibuk ngurusin keluarganya. Saya tak sadar tiap kali bertemu seringkali bercerita mengenai kekasih yang silih berganti. Mungkin karena saya termasuk orang yang memiliki prinsip obatnya sakit hati karena lelaki ya lelaki yang lain lagi. Salah seorang teman saya langsung bicara dengan sedih, “Enak banget ya lo gampang gonta-ganti pacar. Gue nih dah tahunan menjomblo.” Kalimat dan ekspresinya membuat saya tercenung dan karena sudah begitu mengenal teman tersebut demikian juga sebaliknya malah membuat saya berpikir dalam.

“Begini, elo kan tahu laki-laki yang dekat dengan gue. Gue yakin elo ga bakalan doyan ma lelaki macam gitu. Lelaki yang berusia lebih muda dari elo, lelaki yang penghasilannya lebih kecil dari elo. Elo kan cuman liat gue berbunga-bunga terus sering ditelpon. Sesekali dikunjungi karena kebetulan mereka tinggal di luar kota.”

Teman saya tersebut mengiyakan apalagi dia dikelilingi oleh keluarga yang sangat ketat. Sementara saya yang yatim piatu dengan kondisi keuangan yang sangat mandiri, semua keputusan diambil sendiri.

“Ya tapi jangan anggap gue murahan atau desperado. Laki-laki muda itu juga punya masa depan yang cerah dan mereka mendatangiku saat tidak tahu bahwa ada jarak usia yang cukup jauh. Maklum semua berawal dari perkenalan di sosial media yang kemudian dibawa ke dunia nyata. Laki-laki itu tulus bahkan ada yang menyerahkan sebagian gajinya tiap bulan untuk biaya pernikahan kami padahal aku sebenarnya tidak membutuhkannya. Lelaki yang begitu memujaku sampai bisa menuliskan puisi mengenai perasaannya padaku hingga dua buku”

Teman saya geleng-geleng kepala, “Gimana sih bisa ketemu cowok segambreng gitu? Kok gue ga bisa?”

Saya, “Lah elo mainnya ma sesama cewek mana yang dah emak-emak pula pasti yang diomongin dah lain. Coba deh ikut komunitas-komunitas hobi entah bersepeda, ngegym, menulis atau pengajian. Tapi jangan pengajian emak-emak. Waktu itu gue pernah denger tuh habis ceramah, ustadnya bacain penawaran jodoh dan gayung bersambut. Pasangan perjodohan  dari masjid”

poliandri

“Selain itu standard elo juga tinggi banget padahal cowok-cowok yang masuk kriteria itu pasti dah ada yang punya. Inget umur kita berapa?  Kalo mau ya cowok-cowok muda yang dah sukses. Ada sih, masalahnya apa dia mau ma nenek-nenek kayak kita sementara cewek kinyis-kinyis mengejar dengan agresif mas-mas ganteng nan sukses dan tajir.” Saya melanjutkan.

Eh teman saya malah jadi curhat, dia diperkenalkan untuk urusan bisnis dengan seorang lelaki matang. Lelaki yang sudah memiliki isteri, “Beberapa kali dia bahkan ke rumahku.”

Ngapelin?, Tanyaku. “Bukan, urusan bisnis.” Dia menjawab. Teruuus?, tanyaku

“Ya, gue suka flirting ma dia dan sepertinya bersambut. Akhirnya gue singggung deh kesediaan menjadi isteri keduanya.”

Whaaat? Wait a minute.How come you take a big step here.

“Maksud lo apa?” dia nanya.

Apa lelaki itu pernah menembak elo? Pernah menyentuh elo ato pegimana gitu?, saya mengejarnya.

Dia berpikir dan melanjutkan, “Emang gue salah move duluan?”

“Kita bicara laki orang loh dan gue gak lihat tuh laki menunjukan move. Resiko jauuuh lebih besar daripada jika kau mendekati lelaki single. Bahkan akupun ga berani move duluan ma lelaki single.”

Beneran elo ga pernah move duluan? Dia bertanya.

“Ya enggalah, gue mana punya nyali???” Saya setengah berseru

“Lain masalah  kalau suami orang itu yang move duluan. Elo tinggal nangkep penawarannya. Kenapa sih ga ngelirik duda? Sekarang banyak loh. Teman-teman kita aja banyak yang jadi duda. Enak lagi satu paket jadi ga usah mikir untuk beranak, Seumuran kita beresiko tinggi kalau  hamil dan melahirkan.” Saya coba mengusik pikirannya.

Dia bercerita lebih lanjut baru saja bertemu dua kakak kelas yang sudah menduda. Saya mengingatkan bahwa teman seangkatan juga ada yang menduda dengan dua anak ABG.

“Ah si Ito mah standardnya tinggi. Gue ga masuk nominasi dah,” katanya berkaitan dengan si duda seangkatan.

Menurut gue sih elo punya kualitas seorang perempuan yang bagus. Mandiri secara financial, berhati welas dan pintar masak. Itu kan cocok banget buat jadi ibu sambungan. Hayoo fighting, moso nyosor ke laki orang berani ke lelaki single ga bernyali.

“Ah, semprul lo,” dia menjawab.

Jadi sebenarnya jatah lelaki untuk tiap perempuan ada bahkan surplus. Masalahnya jodoh tuh harus dijemput. Jika kita selalu berbaur dengan perempuan, gimana mau kenalan dengan lelaki? Moso kita bilang ke teman perempuan, “Yuk berbagi suami.” Bisa-bisa dikemplang dengan sukses. Aktiflah bergaul tentunya tak perlu menampakan hasrat berburu suami. Tetap tulus dalam bergaul akan melahirkan pribadi yang cantik, paket fisik yang lain jadi nomor sekian. Jika upaya tersebut tak juga mendatangkan hasil maka tak  ada salahnya minta tolong kepada teman, ustad atau pemuka agama terkait bahkan kepada kaum professional. Banyak biro jodoh saat ini dari yang diatur secara online hingga yang bertarif dollar. Semua sudah membuktikan hasilnya.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s