Tetap Hidup Sehat Bersama Diabetes


Sebuah tidur lelap yang terjaga tengah malam menjadi semacam mimpi buruk bagi saya. Manakala terjaganya itu merupakan serangkaian sakit yang mengantarkan saya menjadi angka satu diantara 10 penduduk dunia yang menderita Diabetes Mellitus. Sebuah perbandingan yang dilansir oleh World Health Organization 2014.

Saya masih ingat sekali saat saya terjaga malam itu dan bermaksud beranjak dari tempat tidur, saya terlempar kembali ke tempat tidur. Berusaha bangun, terlempar kembali demikian berkali-kali dalam kegelapan. Saya akhirnya pasrah terbaring sembari menjerit berusaha memanggil anggota keluarga yang masih terlelap di kamar masing-masing. Satu-satunya yang terbangun, anak saya malah mengira itu suara jurit tengah malah dan melanjutkan tidur dengan ketakutan.

mirror
Sumber: Mirror

Akhirnya saya melanjutkan tidur hingga terjaga kembali waktu Subuh. Bisa bangkit dari tempat tidur namun langsung muntah mengeluarkan cairan warna hitam. Saya masih sempat jalan pagi sebelum menuju suatu Rumah Sakit. Hari itu hari Sabtu jadi langsung ditangani pihak Unit Gawat Darurat. Semua diperiksa hingga mereka menemukan kadar gula dan tensi yang tinggi. 400 dan 180. Saya sendiri sangat terkejut dengan fakta itu mengingat 2 tahun saat General Check Up, semua indikator kesehatan dalam keadaan sempurna.

Dokter masih memasangkan alat untuk memeriksa fungsi jantung. “Untung tidak sampai menyerang jantung, bu,” demikian dokter menerangkan usai membaca data. Para petugas medis memasang infus, “kita tunggu sampai habis bu. Jika setelah infus habis, kadar gula dan tensi turun maka ibu bisa pulang. Jika tidak berarti ibu langsung rawat inap ya.” Satu botol infus habis dan indikator tidak berubah. Langsung masuk rawat inap, tiga botol infus sekaligus disematkan. RS memberi info mengenai isi dan harga dari masing-masing infus. Saya terbaring sendiri di kamar yang sebenarnya tak kalah nyaman dengan hotel. Anak dan temannya menawarkan untuk menemani namun saya menolak. Saya ingin menikmati senyap sembari memikirkan yang terjadi pada diri sendiri. Sekalinya menyalakan televisi malah mendapatkan tayangan tentang Meutia Kasim pasca serangan stroke yang dialaminya. Meutia Kasim yang biasa sibuk jadi frustasi karena pikirannya yang aktif dan kreatif terjebak dalam tubuh lemah tanpa daya. Sungguh saya ngeri membayangkan jika mengalami kondisi yang sama. Apalagi bolak-balik tak bisa bangun tempo hari ternyata disebabkan Vertigo yang timbul karena tingginya tekanan darah serta kadar gula. Sebelumnya saya tidak pernah menderita Vertigo.

naturalnews
sumber: naturalnews

Jangan salah diabetes itu seperti permainan bowling strike yang gelindingan bolanya menyerang kemana-mana. Diabetes akan menyerang aneka organ tubuh yang vital. Makanya pasca keluar dari RS (hari Selasa), saya berusaha patuh pada petunjuk dokter. Perlu beberapa kali eksperimen dari pak dokter hingga menemukan obat yang cocok. Saya juga mempelajari diabetes lebih jauh dimana diabetes terjadi karena sel-sel dalam tubuh manusia membutuhkan energi dari gula (glukosa) untuk bisa berfungsi dengan normal. Yang biasanya mengendalikan gula dalam darah adalah hormon insulin. Insulin membantu sel mengambil dan menggunakan glukosa dari aliran darah. Jika tubuh kekurangan insulin yang relatif, artinya kadar gula darah sangat banyak akibat asupan berlebihan sehingga kadar insulin tampak berkurang; atau muncul resistensi terhadap insulin pada sel-sel tubuh, kadar gula (glukosa) darah akan meningkat drastis. Inilah yang memicu dan menjadi penyebab penyakit diabetes (diabetes melitus).

Diabetes tipe 2 biasanya terjadi pada orang-orang yang memiliki berat badan berlebih dan kurang gerak fisik. Pola hidup yang tidak aktif banyak memicu terjadinya penyakit ini. Itulah sebabnya diabetes tipe 2 sejak dahulu biasa ditemukan pada orang-orang dewasa. That’s it. Saya termasuk yang kurang gerak fisiknya. Saya terbiasa melakukan aktifitas di muka layar laptop hingga pk 3 malam. Aktifitas fisik yang massive nyaris tak pernah. Jadilah tabungan kebiasaan tak sehat mengantarkan ke kamar di RS. General check up dijadwalkan 6 bulan sekali. Hingga suatu hari dokter kelihatan kesal melihat hasil check up saya padahal semua indikator dalam rentang normal.

“Mbak, sekilas semua kelihatan normal tapi satu angka HBIAC ini menunjukkan sebuah fakta yang lain. Dokter lain mungkin tidak berani mengatakannya. Tapi demi kebaikanmu, saya akan mengatakannya, “ jawabannya membuat saya berdebar ketakutan. Apa penyakit saya bertambah lagi?

“Umumnya seminggu bahkan dua minggu sebelum kontrol rutin seperti ini, pasien akan memperbaiki perilaku kesehatannya bahkan kalau perlu menambah dosis obatnya supaya hasil labnya bagus. Hasil ini jelas menunjukan bahwa kondisi bagus anda tuh tidak dicapai dalam jeda waktu yang lama. Parameter HbAIC ini yang membuktikan. Rentang normalnya antara 5 – 7 sementara milik anda, mbaaak 8.” Demikian dr internist itu menjelaskan panjang lebar.

Penjelasan yang bikin “sakitnya tuh di sini” karena buat apa saya merekayasa kesehatan saya sendiri. Saya tidak perlu mempertanggungjawabkan hasil lab saya ke siapapun kecuali ke diri sendiri. Tapi saya berpikir keras dan mencoba mencari jawaban atas penjelasan dokter Haris. Akhirnya teringat aktivitas bersama suami selama sekitar 10 hari sebelumnya di Jogjakarta.

“Dook, saya mana mungkin merekayasa seperti itu. Kan saya berkepentingan pada kesehatan sendiri. Saya ingat waktu mudik ke Jogja tuh tiap hari travelling bareng suami dengan jalan kaki. Kami menginap di hotel dekat stasiun Tugu dan sarapan pagi selalu ke pasar Beringharjo. Jalan kaki ke sana tuh nyaris satu kilometer sendiri. Sarapan pagi favorite kami pecel Beringharjo. “ demikian saya menjelaskan dengan bersemangat dan menceritakan tentang pecel Jogja dan liburan kami di Jogja.

solopos
Sumber: Solopos

“Pecel Jogja tuh beda dengan gado-gado Jakarta,dok. Kalau gado-gado Jakarta kebanyakan terdiri dari sayuran yang direbus cukup lama maka sayuran di pecel Jogja sepertinya direbus sebentar jadi terasa masih crunchy. Sayurannyapun lebih beraneka ragam dan berwarna. Ada wortel dan warna oranyenya jelas sangat menggoda. Ada bunga papaya yang putih cantik tetapi rasanya pahit. Belum lagi ada daun kenikir, kecipir dan daun singkong. Tatanannya menggunung benar-benar mengundang selera Saya ingat selama di sana kami tidak pernah ngemil. Makan lebih sering dua kali dalam sehari daripada tiga kali sehari,” lanjut saya.

Dokter menyimak penjelasan saya dan akhirnya menyimpulkan, “Nah mbak dah membuktikan sendiri. Perbanyak konsumsi serat seperti dalam sayuran itu. Juga perbanyak bergerak, tak perlu ke gym segala. Buktinya dengan jalan kaki juga sudah banyak kemajuan kan? Sekarang mau saya kasih tahu kuncinya untuk menurunkan kadar gula darahnya?”

“Gimana dokter?,”  saya turut bersemangat.

“Satu jam setelah makan, entah saat makan pagi – siang – atau malam langsung jalan kaki cukup 30 sampai 50 menit,” beliau menjelaskan.

Demikianlah saya mulai disiplin menjalankan sarannya. Sampai dokter mengatakan, “Seandainya semua pasien saya menjaga kesehatan seperti mbak.”

Namun ketika kami pindah ke Jawa Timur mulailah ritme makan berantakan lagi. Hingga akhirnya berat badan naik lagi dan pastinya kadar gula darah tidak stabil. Seorang diabetesi memang harus berjuang sepanjang hidupnya dalam menjaga kesehatannya.

Gula darah yang tinggi merupakan persoalan serius yang dapat menimbulkan beragam problem kesehatan. Di samping itu diabetes juga membawa berbagai persoalan kesehatan yang bisa melahirkan komplikasi diabetes yang bisa terjadi :

  1. Masalah saraf (neuropati), menyebabkan rasa seperti ditusuk-tusuk pada ujung kaki dan tangan,
  2. Penyakit ginjal (nefropati) yang pada tahap akhir bisa menyebabkan gagal ginjal,
  3. Penyakit kardiovaskular yang dapat menyebabkan serangan jantung dan stroke,
  4. Masalah pada mata yang dapat menyebabkan retinopsti (glaukoma) dan katarak premature,
  5. Luka di bagian kaki hingga menyebabkan gangren
  6.  Penuaan dini.

Siapa yang tidak takut mendapatkan “ancaman” akan sederet penyakit mematikan itu.

Anehnya biarpun penderita penyakit diabetes makin meningkat dari tahun ke tahun tapi kesadaran untuk memeriksakan diri ataupun menjaga asupan makan (hanya 20% mengkonsumsi makanan sehat) dan meningkatkan aktifitas fisik masih sangat kurang. Sehingga RSCM menengarai bahwa pasien-pasien yang datang berobat, ada 9.2% yang ternyata menderita diabetes dimana 33.9% dari jumlah itu diperlakukan dengan ukus kaki diabetik dan gangren. Padahal Diabetes dan 2 penyakit mematikan lainnya yakni jantung dan penyakit pernapasan dapat dicegah. Makanya Sun Life konsisten dalam gerakan mencegah Diabetes di Indonesia dan sebenarnya juga di dunia.

okezone.jpg
Sumber: Okezone

Selain dengan membangun awareness melalui gerakan Jakarta Diabetes Walk November 2015 lalu. Sun Life bekerjasama dengan RSCM membuat Poliklinik (uji joba) Edukasi Dianetes Melitus Terpadu  dengan harapan ini akan membangun kesadaran pada masyarakat bahwa mencegah lebih baik dari mengobati. Poliklinik ini dilengkapi dengan ruang diskusi berkelompok, ruang konsultasi gizi, fasilitas perawatan pasien dan ruang konsultasi DM.

“Kami menyambut siapapun untuk mengunjungi Poliklinik Edukasi Diabetes Melitus Terpadu untuk mengetahui informasi seputar DM secara mendalam,” ujar Elin Waty, Presiden Direktur PT Sun Life Financial Indonesia.

Advertisements

2 Comments Add yours

  1. mysukmana says:

    btw pokoknya makan yang pait2, kayak daun pepaya dan perbanyak sayuran n air putih,jangan makan nasi pas anget 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s