Henry Setiawan – Sarjana Tehnik Robotik yang Memilih Jadi Petani


Indonesia menghadapi ancaman kehilangan petani akibat kurangnya minat generasi muda untuk mengembangkan sektor pertanian, hal ini dinyatakan oleh petinggi dari Kementerian Pertanian ( Kompas, 10 Agustus 2016 ). Tak bisa dipungkiri kerja keras sementara pay off yang kurang menantang membuat generasi muda lebih memilih jadi buruh pabrik. Selain ancaman kekurangan tenaga, petani juga menghadapi masalah dengan membanjirnya produk pertanian impor. Bayangkan untuk garam saja Pemerintah harus mengimpor  1.04 juta ton garam senilai  US$  46.6 juta. Untuk kedelai yang merupakan bahan baku tempe dan tahu US$ 719.8 juta. US$ 97.8 juta untuk beras. Belum lagi impor biji gandum berikut mesinnya, gula pasir dan gula tebu dan masih banyak lagi. Dunia pertanian di mata warga Indonesia sungguh tidak menantang padahal jika dilihat angka impor yang begitu tinggi sebenarnya hal tersebut menandakan betapa prospektifnya dunia pertanian.

Petani juga sangat membutuhkan modal dan seharusnya Pemerintah terutama Pemerintah Daerah bisa memfasilitasi hal ini sebab ada anggaran pembangunan dan belanja daerah yang masih mengendap (belum dipergunakan) ada sebesar Rp. 238,8 trilyun.

Sungguh sangat disayangkan padahal bagi saya pribadi menjadi petani adalah impian lama yang bahkan telah dituliskan dalam profile di blog pribadi sejak 2010 lalu. Kenyataannya, saya adalah profesional di bidang keuangan yang mukim di Jakarta. Mimpi yang jauh panggang dari api ini menemukan jalan ketika menerima pinangan seorang lelaki yang mukim di Jawa Timur. Yang tempat tinggalnya masih nempel dengan sawah berhektar-hektar. Sayapun merapat ke  Kompasianer dan Fesbuker yang mukim di Jawa Timur.  Kabar baik segera datang saat  Agung Triatmoko yang memperkenalkan saya dengan Henry Setiawan ketika saya mencari mentor yang mumpuni soal budidaya cabe. Kami bertiga sempat chat panjang-lebar soal budi daya cabe melalui Facebook. Henry Setiawan (selanjutnya disebut Henry) tidak segan-segan membagikan ilmu bertanam cabe dan ini malah membuat saya ingin berjumpa langsung dengannya.

Henry6

Sosok Henry Setiawan adalah sosok penggiat pertanian di wilayah Ponorogo khususnya di desa Karanglo Lor, kecamatan Sukorejo. Dia bersama komunitasnya menjadi inspirasi bagi para petani di daerahnya karena melakukan inovasi pertanian yang bisa dijadikan inovasi daerah tapi juga menjadi tempat saya banyak belajar mengenai pertanian.

Jadilah hari itu saya dan suami meluncur dari rumah kami di Gresik menuju Ponorogo. Perjalanan memakan waktu lebih dari empat jam dan begitu memasuki kota Ponorogo, kami kehilangan orientasi hingga saya segera menelpon Henry yang terkejut mengetahui saya telah tiba di kotanya, “Serius mbak, sampeyan benar-benar mau belajar bertanam cabe.” Lah serius dong mas, buat apa jalan jauh-jauh kemari, demikian saya jawab. Diapun bergegas menjemput kami dan mengajak ke rumahnya sebelum kami meninjau lapangan.

Rumahnya menyatu dengan warnet berisi 12 PC (personal computer) yang ramai dikunjungi anak-anak serta remaja putri yang diantar bahkan ditunggui ayah mereka. “Sebenarnya penghasilan warnet ini hanya cukup untuk menutup biaya operasional warnet saja tapi orangtua saya dan orangtua pelanggan keberatan kalau saya tutup. Soalnya warnet ini sudah saya protect dari situs-situs porno dan jam operasionalnyapun dibatasi hingga pukul 9 malam. Jadi para orangtua pelanggan merasa aman jika anaknya mengakses internet dari tempat ini,” demikian penjelasan Henry.

Kami duduk-duduk di amben depan warnet ditemani angin nan semilir sembari menikmati kopi hangat yang disajikan isterinya. Henry sedikit menceritakan latar belakang hidupnya yang sebenarnya sudah diceritakan juga oleh mas Agung Triatmoko. Henry Setiawan adalah Sarjana Tehnik Robotik dari suatu Universitas di Malang. Cukup sulit bagi Henry untuk mencari pekerjaan di Indonesia sesuai bidang pendidikannya. Hingga akhirnya dia terdampar di suatu perusahaan industri di Korea. Tidak butuh waktu lama bagi Henry untuk mencapai posisi orang kedua setelah owner dari perusahaan tersebut. Dan ini ternyata membuat iri teman-temannya yang warga asli Korea. Dilain pihak, owner meminta komitmen jangka panjang Henry hingga  menawarkan rumah besar, mobil mewah dan bahkan seorang isteri – wanita Korea. Henry bisa memastikan bahwa hal ini akan meningkat rasa iri teman-teman Koreanya. Maka akhirnya Henry memutuskan untuk pulang ke kampung asalnya, Ponorogo.

Awalnya Henry memutuskan untuk menjalankan bisnis memasok komputer dan jaringannya ke kantor-kantor swasta dan Pemerintahan. Lagi-lagi Henry harus berhadapan dengan suasana sikut-menyikut dan kali ini lebih keras. Maka akhirnya Henry memutuskan untuk berhenti dari bisnis itu dan menjadi Petani.

Suatu profesi yang dekat dengan alam dan minus rasa persaingan tak sehat, “Sesama petani adalah saudara mbak. Sungguh saya merasa damai ketika pagi dan sore berada di sawah. Akhrinya saya merasa tertantang untuk mengembangkan pertanian yang ramah dengan lingkungan tapi bisa mensejahterakan petani.”

Henry

Saya tertarik dengan kata-katanya dan menyimak lebih jauh ajakannya ke lapangan, “Mbak, kita langsung lihat lahan yang gagal panen dulu ya. Biar dikasih lihat yang pahit-pahit dulu biar sampeyan dari awal menyimak proses dengan baik.”

Demikianlah dalam waktu singkat kami segera sampai ke hamparan sawah nan luas dengan berbagai jenis tanaman. Menyusuri tegalan, akhirnya sampailah di lokasi tanaman cabe seluas 1000m2 yang sudah tinggi tapi meranggas kering. Sebelumnya Henry menjelaskan bahwa awalnya tanah tidak mengandung cacing saking tebalnya kandungan pestisida. Padahal kehadiran cacing diperlukan demi kebaikan tanah itu sendiri. Maka sebelum ditanami, Henry mengolah dan menyehatkan tanah itu.

Henry3

“Tanaman cabenya mati total. Ini mini lab kami – semacam tempat eksperimen. Selama ini kan memang rumusan dalam menanam cabe tidak boleh memakai air sungai. Nah kita mencoba melawa rumusan itu. Sebelumnya kita melakukan test laboratorium akan kandungan air sungai dan menemukan virus di air sungai yang mematikan tanaman cabe.  Prinsipnya adalah  mengadu bakteri milik kita dengan virus tersebut. Hasilnya ya begini.”

Waduh sayang ya mas, saya sedikit menyesal.

Henry7

“Ya harus dicoba. Kalau enggak gini kan kita gak tau sampai segimana batasnya. Berarti formula kita masih salah.” Henry menunjukan lahan lain yang ditanami aneka palawija subur. Setelah itu Henry mengajak kami kembali ke rumah dan menunjukan sebuah botol berisi formula pengoptimalan kerja dari phosphat dalam pengambilan air dari tanah. Ini merupakan suatu percobaan lain dengan tujuan agar nantinya tanaman bisa hidup tanpa pengairan saat musim kemarau. Henry Setiawan banyak berkonsultasi dengan seorang professor di IPB.

Henry4

Henry5
Pulang dibekali Pupuk Alam

Kamipun pulang kembali ke Gresik dan mulai mewujudkan mimpi bertanam cabe. Kami masih saling berhubungan terutama melalui Facebook. Hingga suatu hari saya mengupload link tulisan saya di suatu microsite harian Bisnis. Artikel tersebut berisi keprihatinan akan kondisi tanah yang gersang karena kemarau panjang serta polusi akibat sangat bersinggungan dengan pabrik-pabrik. Begitu gersangnya hingga petani gagal panen dan sampai mengais tempat sampah saya serta mengambil bungkusan nasi basi tiga hari. Henry langsung menawarkan formula percobaannya yang bisa menyuburkan tanah pertanian kembali.

“Tapi ini rahasia ya. Yang boleh meracik ya sampeyan kalau enggak ya petani bersangkutan. Jangan sampai tersebar ke orang lain karena jika dikomersiilkan bisa laku Rp. 55.9 ribu/ liter, “ demikian dia mewanti-wanti.

Demikianlah saya sempat mencoba formula tersebut bersama petani yang mau. Tidak banyak yang mau karena saat itu banyak industri berminat membeli sawah untuk membuka pabrik di Gresik.

Henry Setiawan dan komunitasnya yang tidak saja terdiri dari para petani tradisional juga ada petani yang berasal dari dokter, ahli kimia bahkan dukun mendedikasi tenaga, pikiran bahkan dana untuk memajukan pertanian. Saya cermati mereka memiliki benang merah  dalam mendasari kegiatannya yakni bersahabat dengan alam, kembali ke tradisi tapi tetap modern dalam bertindak serta berupaya menekan biaya dan mendapatkan hasil optimal.

Dia sangat prihatin dengan fenomena boomingnya organik dan dibawa para makelar pertanian ke desa. Mereka minta petani bikin jahe organik di polibag, konon hasilnya bisa 20-25 kg. Ternyata setelah dipraktekan hanya menghasilkan 0.5 kg jahe saja. Ini bisa terjadi karena para petani sendiri tidak paham masalah mikroba. Padahal tanaman selalu membutuhkan enzym hasil pencernaan mikroba. Adalah penting petani memahami fungsi mikroba, pupuk organik maupun pupuk kimiawi.  Petani bingung dengan banyaknya merek dan variasi harga pupuk kimiawi di pasaran. Merek A harga Rp. 70 ribu, merek B harga Rp. 90 ribu. Padahal ada merek C dengan kandungan urea dan ponska cuma Rp. 9 ribu.

Demikian juga dalam mengatasi jamur pada tanaman. Dengan mengembalikan rumusan asam melawan basa, kita bisa mematikan jamur dengan memakai asam bikarbonat karena asam bikarbonat  akan menjadi jamur pantogen yang memakan jamur-jamur yang merugikan tanaman. Dan tau engga sih mbak yang namanya asama bikarbonat itu adalah soda kue. Harganya Rp. 3 ribu saja.

Kita juga harus mengatasi kendala makin jarangnya tenaga yang mau berkutat di bidang pertanian. Makanya kita mengoptimalkan mesin-mesin pertanian. Contohnya dengan membuat mesin tabela, mesin membersihkan rumput/ Semuanya demi efisiensi kerja.

Hal krusial lainnya adalah output dalam hal ini uang hasil penjualan. Ketika petani sibuk berkutat dengan pupuk, berupaya agar daun padi bagus. Pedagang (tengkulak) padi hanya butuh berat padi. Maka Henry dan teman-teman fokus juga ke pasca panen.  Padi dijadikan beras, dikemas dan diberi label beras sehat non pestisida kimia. Sewaktu petani menjual padi hanya mendapat Rp.4.5 juta hingga Rp. 5.5 juta tapi kalau beras dikemas rapih, petani mendapat Rp. 11 juta.  Dengan barang yang sama, hasil berbeda jauh mbak.

Demikianlah Henry berkutat mengeksplorasi upaya-upaya agar pertanian dan alam selaras menghasilkan harmoni indah bagi petani. Di awal saya bertani mbak, ada seorang petugas penyuluh pertanian nasional yang menasehati hal ini. Cintailah alam, bergaulah dengannya, sapa dan ajak omong mereka. Mintalah agar bersahabat denganmu. Henry melakukannya, tiap kali ke sawah selain melakukan aktivitas rutin bertani. Dia juga mengajak berbicara tanamannya. Dia menyapa para hama dan meminta agar mereka berwelas asih kepadanya. “Bener aja mbak, waktu ada hama yang menghajar pertanian Ponorogo. Saya masih disisakan yang mencukupi untuk makan sekeluarga.” katanya.

Henry2
Sawah Impian Saya…..Kata mas Henry sih mahal nih pembuatannya

Beneran mas? Saya jadi takjub.

Kita ini lucu ya mbak, sok-sok modern membunuh hama pakai pestisida. Padahal nenek moyang kita punya tradisi yang beda. Jaman mbah kita dulu, umur padi sekitar 5-6 bulan dan hanya menggunakan pupuk kandang. Saat umur 35 hari diberi sesajen tiap pojok dan aman dari serangan apapun. Pengendalian hama hanya dengan selamatan dan semua sukses. Beda dengan padi hybrida sekarang. Makanya kita juga meneliti memakai sarana laboratorium untuk melihat kandungan mikroba dan pestisida nabati alami pada sesajen itu.

Sayapun bangga mendengarnya. Jika ada petani dan komunitas seperti itu. Pasti pertanian untuk Indonesia bisa semakin maju.

Artikel ini diikutsertakan pada Kompetisi Menulis Blog Inovasi Daerahkuhttps://www.goodnewsfromindonesia.id/competition/inovasidaerahku

Advertisements

6 comments

  1. Masya Allah.. humble sekali beliau.. luar biasa bgt org2 yg masih mengutamakan kebahagiaan ketimbang mengejar harta yg gak akan ada habisnya.. mudah2an makin banyak henry-henry lainnya kelak..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s