Surprise Party Seru Bagi ART Kami


Ulang tahun setiap anggota keluarga datang silih berganti namun semua  anggota keluarga  sepakat bahwa surprise party bagi ART kami merupakan perayaan ulang tahun yang paling berkesan. Mungkin ada pembaca yang langsung bereaksi, “Suprise party buat ART?”

Well jika teman memiliki ART yang sudah mengabdi hingga 3 dekade dalam usianya yang ke  69 tahun dimana susah senang bersama, saya yakin pasti teman-teman tidak akan keberatanmelakukan hal yang sama. Tapi fakta ini juga bisa menimbulkan salah paham. Alih-alih dipuji malah bisa-bisa kami dicela, “Apaaaa. di usia 69 tahun masih dijadikan ART?” jeng-jeng.

“Situ lagi bikin perbudakan modern, Ciin?”

Hmm bisa dikatakan kami termasuk keluarga yang memperlakukan ART dengan cukup baik makanya ART kami awet-awet di tengah maraknya gonta-ganti ART di rumah tangga lain. Dulunya mbak Preh tandem bareng mbak Nem yang bekerja di rumah kami  selama 9 tahun sebelum akhirnya menikah. Ketika mbak Preh berusia 65 tahun, kami merubah beberapa sistim di rumah misalnya berlangganan catering untuk makan sehari-hari. Menambah ART  paruh waktu yang bertugas menyapu dan mengepel serta cuci baju dan setrika. Mbak Preh cuma mempersiapkan hidangan di meja serta merapihkan bekas santap. Saya cuma tinggal bertiga dengan Sari (adik) dan tentunya mbak Preh. Dasarnya mbak Preh gak bisa diam, tiap pagi dia menyapu halaman kami  yang cukup luas,  sekitar 400m2. Jadi deh kami dikomentari  orang-orang yang lewat, “Itu majikannya kejam amat ya, nenek-nenek masih disuruh kerja.”

Memang orang yang tak mengerti masalah sering berkomentar keras. Padahal sih ada alasan lain kenapa mbak Preh tetap tinggal di rumah kami. setelah opsi lain pernah kami tawarkan. Di usianya yang makin menua, mbak Preh mulai diserang Osteoporosis. Susah bangkit dari duduk dan jalan tertatih-tatih membuat kami menyarankan mbak Preh untuk memakai tongkat. Mbak Preh yang merasa muda selamanya  dengan tegas menolak. Padahal sering kali saya dan adik harus “memungut” mbak yang tiba-tiba terjatuh. Penjelasan bahwa dengkulnya mengeropos jadi tidak mampu menopang tubuhnya yang gemuk tidak digubrisnya.

“Sebisa mungkin aku gak pakai tongkat deh,” demikian katanya.

suprih (1)

Hal-hal di atas akhirnya membuat saya dan adik berunding serta sepakat untuk menawarkan  ke mbak Preh ketika menginjak usia 65 tahun, “Mbak Preh gimana kalau sekarang pensiun? mbak Preh boleh milih kembali ke Jogja kumpul sama saudara-saudaranya atau tinggal di Panti Jompo. Jangan khawatir nanti kita kasih uang pensiun kalau kembali ke Jogja atau kita bayarin bulanan biaya tinggal di panti jomponya. “

Mbak Preh langsung menolak kedua opsi itu dengan ketakutan.

Sebagai bukti bahwa dia masih layak kerja besoknya dia tambah giat bekerja. Saya mencoba menjelaskan, “Mbak, Panti Jompo sekarang bagus, bersih dan banyak temannya loh. Itu si mbok yang dah berusia 100 tahun, dititipkan ke Panti Jompo sama mas Yudi (atasannya). “

“Jangan khawatir, ntar kita tengok kok,” Saya melanjutkan. Mbak Preh tetap menolak, setelah itu dia beberapa kali curhat ketakutannya ke ART paruh waktu. Sejak itu isu panti jompo tak pernah dibahas lagi.

Nah ketika mbak Preh akan menginjak usia 69 tahun, tiba-tiba timbul ide untuk  memberikan surprise party bagi mbak Preh.  Karena saya harus ke Surabaya jadilah adik dan Mini (ART paruh waktu) yang kasak-kusuk mempersiapkan. Mbak Preh mulai curiga karena seringnya mereka kasak-kusuk. Saya dari jauh memantau perkembangan  termasuk kecurigaan mbak Preh.

H-1 saya menelpon ke rumah dan pas mbak Preh yang mengangkat, “Mbak Preh  jadinya milih yang mana?”. Milih apaan dek, mbak  Preh menjawab.

“Milih panti jomponya. Sari kan dah dapat 3 panti jompo,  mbak Preh tinggal pilih.“ Saya menjelaskan.

Dek kok gitu sih, mbak Preh menjawab dengan lemas. Telpon diberikan pada Sari dan kami cekikikan.

Besoknya saya kembali ke Jakarta dengan pesawat pertama, jadi pk. 07.00 pagi sudah berada di rumah. Pk. 10.00 pagi tumpeng pesanan datang berikut adik dari mbak Preh yang datang bersama anak-anaknya.

Suprih

“Surpriiiiiise mbak Preh…..”, dilanjutkan dengan nyanyian Selamat Ulang Tahun bersama. Semua adik-adik saya datang demikian juga teman-teman mbak Preh se kompleks.

Sebelum tiup lilin, mbak Preh berdoa dengan hidmat. Usai Tiup lilin, mbak Preh mencium kami satu persatu dengan airmata berlinang. Dan mbak Preh akan tetap tinggal bersama kami hingga akhir hayat.

 

 

 

Advertisements

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s