Masakan Yang Mengikat Jiwa


MASAKAN YANG MENGIKAT HATI DAN JIWA

Ucapan George Calamari salah seorang juri dari Master Chef Australia saat menikmati suatu hidangan sungguh mengingatkan pada pengalaman saya dalam berolah rasa. Ketika itu George mengatakan, “Inilah momen ketika masakan tidak saja menjadi makanan. Tapi juga menjadi pengikat hati dan jiwa.”

KISAH MASA LALU

Pada awalnya memasak bukan area keahlian saya. Jika boleh mencari alasannya, salah satunya karena kehadiran mbak Prih – ART yang setia memasak enak di rumah selama 35 tahun. Kelezatan masakan si mbak mampu teman adik di kantor menitipkan sejumlah uang untuk dibuatkan masakan-masakan seperti bekal makan siang adik. Alasan kedua adalah alasan cerdas malas memasak ala almarhum emak saya (jika masih hidup saat ini akan berusia 78 tahun). “Udah ga usah ribet-ribet masak, kasihan nanti yang jualan ga laku kalau semua orang masak. Kalau kita beli masakan orang berarti kita beli makanan enak sekaligus beramal.” Hahahaha, ini yang bikin kita cinta ma emak yang santai dan baik hati.

Saya mulai masuk dapur usai menonton acara memasak Rudi Choiruddin dan mendapatkan informasi mengenai kesaktian dari bawang putih, bawang

cglutendfreed

bombay dan saos tomat. Dengan mengolah bahan-bahan ini dalam waktu yang tepat maka hidangan lezatpun dapat tersaji. Sayapun segera bereksperimen tips tersebut dengan membuat mie telor goreng saos tomat. Perpaduan aroma bawang putih, bawang bombay dan saos tomat mampu membuat mie telor menjadi hidangan sedap yang mengundang selera orang serumah.

Kemampuan memasak saya akan tetap minimalis seperti di atas seandainya saja saya tak memasuki dunia baru bernama Pernikahan.

KISAH MASA KINI

Suatu peristiwa yang tak saya perhitungkan akan terjadi dalam hidup saya. Pernikahan tak pernah ada dalam agenda kehidupan saya. Mungkin aneh bagi sebagian besar orang Indonesia tapi saya benar-benar menikmati hidup saya. Saya tak mengejar titel Nyonya. Makanya kaget sendiri ketika menerima pinangan seorang teman yang berstatus duda (cerai mati) dengan dua anak masih kecil (usia lima tahun dan sepuluh tahun). Sang duda yang mukim di Gresik tidak keberatan jika untuk sementara waktu kami menjalani pernikahan Semi LDR ( Long distance marriage ). Saya akan wara-wiri dua minggu di Gresik dua minggu di Jakarta sembari membenahi pekerjaan supaya bisa segera dialihkan secara permanen ke Gresik. Saat itu kedua anak tinggal bersama neneknya di kota Malang yang sejuk.

Suami bekerja di salah satu pabrik di Gresik dan kami tinggal di kawasan perumahan yang tak jauh dari pabrik. Perumahan yang dilabeli sebagai Real Estate dengan tingkat penghuni yang cukup tinggi memiliki situasi yang berbeda dengan di Jakarta dimana aneka tukang sayur lewat menjajakan dagangannya. Hanya ada satu tukang sayur yang lewat depan rumah kami, sementara itu untuk berbelanja harus keluar kompleks dengan jarak cukup jauh tanpa ketersediaan kendaraan umum atau ojek. Satu-satunya cara adalah dengan kendaraan pribadi tapi suami mengkhawatirkan saya jika membawa kendaraan sendiri keluar kompleks yang jalannya dipadati truk-truk pabrik. Akhirnya saya selalu membuat persediaan sayur, aneka protein seperti daging sapi, ayam, ikan maupun tahu tempe untuk beberapa hari dan menyimpannya di kulkas. Dan kini setiap hari rutin terjun ke dapur. Selain mengandalkan geprekan bawang putih, rajangan bawang Bombay dan saos tomat, bumbu dapur lain macam bawang merah, cabe merah, merica, kemiri mulai dimainkan. Suami selalu pulang saat makan siang menyantap apapun yang saya masak dengan lahap. Pernah stok bahan masakan habis dan tukang sayurpun tak lewat, suami tetap pulang jam makan siang dengan membawa masakan matang yang dibelinya di warung nasi.

unyil1

Saya merasa ini so sweet banget kendatipun dia belum pernah memenuhi kesepakatan awal pernikahan untuk mencuci piring tiap hari. Padahal saya sudah menangani semua urusan domestik lainnya. Setelah memahami bahwa suami ternyata orangnya male chauvinist yang tak akan mengerjakan pekerjaan domestik maka terbersit keinginan untuk ngerjain dia. Dan momen itu terbuka ketika esok adalah jadwal saya kembali ke Jakarta. Maka sehari sebelum berangkat, saya sama sekali tak mencuci perabot dapur dan perabot makan bekas pakai. Ada segunung panci, piring, cangkir maupun sendok garpu. Paginya kami segera berangkat ke bandara dengan mengendarai sepeda motor. Traveling bag diletakan diantara kaki suami, saya menggonceng seraya memeluk erat pinggang suami. Suami menjalankan motornya perlahan di jalan yang masih lengang. Satu tangan kami saling menggenggam, saya merebahkan kepala di punggungnya. “Yang, tadi aku ninggalin Pe eR ya buat kamu. Setumpuk panci dan pirinng kotor belum kucuci.” Suami langsung kesal tapi ketawa dan jadilah sepanjang jalan kami bercanda.

Moment of truth mengenai masakan saya mulai terbuka dan terjadi ketika anak-anak beserta neneknya pindah dari Malang dan bergabung dengan kami. Kami sudah cukup akrab karena tiap kali saya di Gresik, kami selalu menginap di Malang saat weekend. Sembari beberes barang di kamar baru, mertua yang biasa kami Ibuk sibuk bercerita. “Nak, suamimu setiap hari selalu SMS Ibu dan bercerita masakan kamu hari ini. Dia kaget juga ternyata wanita karir sepertimu bisa masak juga. Beberapa masakan seperti daging cincang bumbu pete itu bener-bener bikin dia memuji. Nanti Ibuk dikasih resepnya ya.”

Waduh saya cukup terkejut mendengar kenyataan bahwa suami selalu menilai masakan saya. Saya jadi ingat momen suami pulang ke rumah untuk makan siang dengan muka berkeringat dan harus selalu diingatkan untuk cuci tangan dahulu sebelum makan dengan lahap. Ibuk melanjutkan pembicaraan , “mulai sekarang Ibuk yang masak dan ngurusin pekerjaan rumah tangga ya.” Pembaca pasti jeng, jeng…kebayang cerita sinetron mertua dan menantu berselisih paham. Ini beda banget, Ibuk melanjutkan pembicaraan, “Kamu kan sudah capek-capek bekerja. Kamu ngurusin bocah-bocah aja ya biar kalian makin dekat.” Saya pikir ini arrangement yang tepat dan anak-anak terutama si bungsu langsung dekat sekali dengan saya.

Saya lihat Ibuk memasak dengan cepat dan sedap. Penasaran saya intip kok beliau bisa bekerja demikian effisien. Selain memiliki andalan panci presto yang sebenarnya sederhana karena terbuat dari aluminium dan bukan stainless steel ada juga andalannya yang lain yakni bumbu masak instan. Waduh saya agak cemas sebab setelah bergabung dengan beberapa komunitas hidup sehat, bumbu instan tidak direkomendasikan dipakai apalagi secara rutin. Pada beberapa bumbu dapur segar seperti jahe, kunyit, lada, jintan merupakan bahan alami untuk pengobatan dan hidup sehat. Saya tak ingin Ibuk salah pengertian jika saya menegur langsung maka ketika weekend saya berbelanja ke hypermarket dan menyetok beberapa bahan masakan seperti sayur dan protein. Hingga jadilah hari Minggu itu, saya mulai beraksi dengan geprekan bawang putih, rajangan bawang bombay dan saos tomat untuk membuat puyung hai. Gadis kecil kami berlari keluar kamar menuju dapur, “Mamaaaa, masak opo seh kok baunya enak banget.”

Ibuk menemaninya ke dapur, “Oh masak ala Cina ya Nak. Dulu waktu Ibuk di Taiwan juga sering masak gini.” Yap, Ibuk dulu pernah bekerja di dapur sebuah rumah sakit di Taiwan. Jatah liburnya di hari Minggu masih dipakai untuk jadi tenaga partimer di sebuah resto. Si kecil minta segera dimandikan Ibuk dan setelah dandan cantik dengan bergegas menuntut sepedanya keluar. Aku dan Ibuk saling berpandang heran karena dia malah tidak menyinggung masalah masakan sama sekali. Tak lama kemudian, dia kembali dengan membawa sekitar lima orang temannya, “Ma, teman-temanku mau cobain masakan mama.” Gubraak, enam anak berbau matahari dengan tatapan polosnya masuk dapur. Biasanya si kecil disuapi berarti hari ini saya menyuapi enam anak dari satu piring. Membayangkan bagaimana si kecil dengan bangga bercerita mengenai masakan mamanya ke teman-temannya. Dan mengajak mereka makan di rumah, sungguh mengharukan. Bersyukur sekali hubunganku dengan anak-anak bisa berjalan mulus dan salah satunya disebabkan makanan yang membelai lidah dan kemudian mengikat hati dan jiwa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s