Bu Renggo, Pahlawan Ketahanan Pangan Kalangan Kaum Marjinal


Pagi itu masih pk 7 pagi tapi orang sudah berderet di bagian depan rumah bu Renggo, pemandangan rutin setiap pagi bahkan hari Minggu. Rumah berlantai dua di gang sempit perumahan padat itu, bagian bawahnya dipakai bu Renggo sang pemilik untuk berdagang pecel dengan beberapa ubo rampenya. Seperti bakwan goreng, tempe dan tahu bacem, bihun goreng. Bu Renggo memperkenalkan cara yang unik untuk menyantap pecel . Pecel selain berisi campuran rebusan sayur yang diberi bumbu kacang juga bisa diberi irisan bakwan yang kembali disiram kuah kacang. Bisa juga bihun goreng diletakan di atas tumpukan sayuran, selanjutnya disiram kuah kacang.

bu renggo

Saya mengenal bu Renggo sekitar lima tahun lalu. Ketika itu saya ingin menjalankan program diet sehat ala-ala diri sendiri.  Pada prinsipnya sih sekedar memperbanyak konsumsi buah dan sayur dari pagi hingga malam. Tiap pagi tukang gado-gado lewat, masalahnya bumbu kacang diulek dan dicampur ke sayuran membuat gado-gado harus segera disantap dan tak bisa disimpan karena akan segera berair dan basi. Harganya yang cukup mahal  jelas akan menguras kocek jika harus mengkonsumsinya tiap hari. Beruntung ART sepuh saya mengusulkan, “Itu di kampung belakang kompleks ada pecel bu Renggo.  Bisa beli bumbu dipisah, lagian harganya murah.” Jadilah saya menitip uang ke ART untuk dibelikan pecel buat besok. Pagi-pagi dia sudah jalan ke kampung belakang kompleks tempat kami tinggal. Tak lama kemudian sudah kembali dengan sebungkus pecel dan uang kembalian, “Kok banyak amat kembaliannya? Memangnya berapa harga sebungkus pecel?”.

Ya tadi aku nibake dua ribu, jawab pembantu saya. Nibake itu semacam memberikan bandrol harga pembelian. “Ih mbok pelit amaaat, moso pecel segini banyaknya 2 ribu?.”

Besoknya saya minta diantar ke tempat bu Renggo, kali ini saya beli pecel empat ribu rupiah dan ternyata saya mendapat porsi double dari porsi dua ribu kemarin. Alamak, berarti memang harga pecel bu Renggo cuma dua ribu rupiah. Bakwan, tempe dan tahu bacem dihargai lima ratus rupiah per potong dan tambahan bihun goreng cukup seribu rupiah saja. Dengan harga demikian tentunya tidak memberatkan bagi saya untuk jadi regular customer bu Renggo selama sebulan sesuai program diet  ala-ala tersebut.Sesekali saya membeli pecel dicampur potongan bakwan goreng, ternyata enak juga dan yang jelas mengenyangkan sampai tiba waktunya makan siang. Dan tak terasa lima tahunpun berlalu. Saya teringat kembali pada bu Renggo mengingat makin beratnya beban hidup saat ini, bagaimana kabar bu Renggo?

Dan pemandangan yang sama dengan lima tahun lalu masih terjadi. Orang antri membeli pecel bu Renggo. Dan surprisenya  adalah ketika harga pecel sekarang masih murah saja. Hanya tiga ribu rupiah. Bakwan sudah mengecil ukurannya, hanya sebesar kepalan tangan bayi tetap dengan harga lima ratus rupiah. Bihun goreng  menjadi dua ribu rupiah. Tempe dan tahu bacem menjadi seribu/ potong. Tidak heran pecel bu Renggo laris manis. Saya sebenarnya jadi berpikir, Ibu Renggo ini secara tidak sadar sudah memberikan kontribusi nyata dalam membentuk ketahanan pangan bagi warga sekitarnya.  Bayangkan saja sebungkus pecel dengan beberapa potong bakwan dan bacem tempe-tahu bisa menjadi lauk makan sekeluarga. Bisa menjadi bekal sarapan sehat bagi para penghuni perumahan padat tersebut yang  bekerja sektor formal maupun informal dan memiliki dana minim. Berikut saya kutipkan definisi ketahanan pangan versi wikipedia, ketersediaan pangan dan kemampuan seseorang untuk mengaksesnya. Sebuah rumah tangga dikatakan memiliki ketahanan pangan jika penghuninya tidak berada dalam kondisi kelaparan atau dihantui ancaman kelaparan. Dan bu Renggo memungkinkan para warga perumahan padat itu untuk bisa sarapan tiap pagi.

suprih
Mbok Numpang Nampang

Perumahan padat rada kumuh tersebut sebenarnya dibangun secara liar dengan menguruk empang luas yang seharusnya menjadi daerah penampungan air. Makanya tidak heran tiap kali hujan, air menggenang hingga selutut. Ahok sudah memasang pengumuman bahwa dua tahun lagi daerah tersebut akan dikembalikan fungsinya sebagai empang.

Apakah dengan dagang semurah itu bu Renggo rugi bandar? Kenyataannya sama sekali tidak. Bangunan rumah yang lima tahun lalu semi permanen, separoh tembok separoh kayu saat ini sudah menjadi bangunan tembok bertingkat dua. Bu Renggo bahkan sudah bisa membangun rumah besar di kampung halamannya yang selalu dikunjungi saat Lebaran.  Bu Renggo adalah pahlawan tanpa tanda jasa bagi para tetangga sekaligus konsumennya

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s