Merayakan Duapuluh Empat Tahun Cinta di Dalam Pesawat


Awal September lalu seorang sahabat mengundang kami berempat  untuk merayakan ulangtahunnya. Pertemanan yang berawal di bangku kuliah fakultas hukum sebuah universitas negeri di Depok tiga puluh tahun silam.

Hari Minggu, kami berkumpul di gedung LIA Pramuka sebelum meluncur bersama ke resto Taman Santap Rumah Kayu di Ancol. Kami sepakat untuk naik mobil Ita. Sebenarnya saya dan Ita sama-sama pemakai Avanaza sejak tahun 2010 dan sepakat bahwa Avanza merupakan MPV terbaik Indonesia. Selain memang memenuhi kebutuhan saya akan mobil keluarga Indonesia yang sering travelling keliling Jawa Timur, Avanza juga cocok bagi Ita yang wanita karir dan sibuk wara-wiri. . Sesampainya diparkiran ternyata Ita sudah mengganti mobilnya dengan Grand New Avanza. Saya langsung tertarik pada tampilan eksterior yang terlihat mewah dan elegan. Semua item mengalami perubahan dan design baru.Dari grill, head lamp dengan penerangan optimal. side body molding, panel, rear lamp dengan lensa garnish, rear spoiler dan alloy wheel design dan velg ban – semua item diperbarui designnya. New Anvanza berdandan cantik.

PicAvanza

Tak heran ketika masuk ke dalam, interior juga sudah berdandan. Ruang kabin semakin nyaman dengan kesenyapan sepanjang perjalanan. Panel dashboard berwarna coklat dengan design elegan dan aneka fungsi audio system. Beberapa fitur keselamatan ditambahkan seperti adanya side impact beam yang melindungi penumpang dan pengemudi dari benturan samping. Ada SRS airbag. Dan ABS (Anti Block Braking System), proteksi optimal untuk mengontrol kendaraan saat pengereman mendadak. Ita melapisi jok-jok standar dengan kulit berwarna coklat muda dan membuat tampilan interior semakin mewah. Grand New Avanza memang mobil dengan banyak fitur. Dan sangat membuat nyaman para pengemudinya terutama pengemudi wanita seperti kami.

Kamipun berangkat, mobil meluncur tenang. Tak perlu waktu lama untuk mencapai tujuan. Deretan rangkaian bunga ucapan selamat menyambut kami. Rupanya hari itu adalah hari pertama pembukaan resto. Kami menuju sebuah pesawat yang terletak di area samping belakang resto. Nyaris seluruh seat yang ada telah dibooking Vivi dan ternyata kami tamu terakhir yang datang. Pesawat sudah penuh. Para tamu yang pertama datang sempat berfoto begini.

serasa pesawat pribadi
serasa pesawat pribadi

Ada satu meja dengan sajian lengkap di atasnya pas untuk kami berempat. Kami tidak langsung menyantap hidangan sebab teman-teman yang sudah datang duluan menyambangi meja kami, Berfoto bersama sembari beramah-tamah. Sungguh indahnya kebersamaan. Selain kami berempat yang merupakan geng-gong (istilah sejak kuliah), Vivi mengundang para sahabat dari Marching Band UI angkatan tue (demikian mereka menyebut diriya sendiri). Saya dan Vivi termasuk anggota MBUI dulunya. Undangan selebihnya merupakan sanak -saudara dari Vivi dan Aa (suami). Karena sudah lapar, kami segera menyantap hidangan yang tersedia. Sementara meja-meja lain yang sudah menuntaskan acara santapnya dan sedang asyik berbincang diselingi tawa.

SantapanKami memulai dengan hidangan pembukaan yang saya pikir sup cumi ternyata rasa manis nanasnya dominan. Lebih mirip stup Nanas yang selain berisi irisan nanas juga diberi irisan cumi.

Nanas

KepitingAcara dilanjutkan dengan tiup lilin dan potong kue. Ternyata hari ini sekaligus perayaan ulang tahun perkawinan Vivi dan Aa yang ke duapuluh empat tahun. Mereka termasuk pasangan legendaris di angkatan kami karena selalu kompak dan mesra. Saya jadi ingin sedikit menulis kilas balik mengenai pasangan ini. Sebab hari gini rasanya cukup sulit mencari pasangan yang tetap mesra dan kompak setelah 24 tahun menikah. Awalnya Vivi yang teman sekantor dengan Aa berusaha mencomblangi Aa dengan salah satu teman kami yang berkantor di gedung yang sama. Misi perjodohan gagal, mak comblang akhirnya jadian dengan yang minta dicomblangi. Tak perlu waktu lama, mereka akhirnya menikah. Vivi berhenti bekerja dan menjadi full time housewive. Aa terus menapaki karir yang cemerlang dan kemudian menjelajah aneka perusahaan besar baik swasta maupun BUMN dalam posisi puncak di bidang keuangan.

Tart

Beberapa tahun menikah tak juga dikarunia anak, Vivi menjalani terapi dokter untuk memiliki anak. Namun mereka segera berhenti saat seorang teman yang juga mengikuti program serupa  malah terkena kanker bahkan akhirnya meninggal dunia. Hal ini menjadi semacam wake up call bagi mereka untuk lebih mengasihi orang-orang yang ada di sekitar daripada mencari-cari yang belum ada, misalnya dengan  membantu orang-orang lain yang memerlukan. Yang jelas dengan keadaan demikian mereka jadi bisa saling mencurahkan seluruh perhatian dan kasih sayang pada pasangannya. Mesra tanpa mengumbar kata-kata honey bunny atau sentuhan seronok. Tapi semua yang melihat mereka punya pendapat yang sama. “Ah si Vivi ma Aa bikin ngiri aja deh. Moso ngantri mau salaman ma penganten di hotel Mulia eh Aswin pijitin tangan Vivi,” cerita Artie – teman saya di kantor yang suaminya berteman dengan Aa. Bahkan teman saya yang pernah dicomblangi dengan Aa pernah berkomentar, “Aih mereka mesra amat ya.” Cie-cie nyesel nih ye, saya menimpali.

Vivi akhirnya menjalankan bisnis Online Shop barang-barang ethnik. Bisnis terus berkembang. Yang tadinya sekedar mengambil dari supplier akhirnya mengembangkan line produksi sendiri. Kerajinan perhiasan dari kuningan rancangan Vivi yang diproduksi di Kotagede, Jogjakarta. Pembelinya menyebar hingga ke berbagai negeri.

Seperti yang dikatakan Anggun, “Hidup tak semulus paha cherryb***e”. Demikian juga hidup mereka terutama berkaitan dengan posisi Aa yang strategis di perusahaan. Aa tak segan untuk mengundurkan diri jika kebijakan pimpinan tak sesuai dengan nuraninya. Dan Vivi selalu mendukung putusan Aa. Saat ini Aa kembali memegang posisi tertinggi bidang keuangan di suatu perusahaan.

Eksplorasi weekend mereka selalu kami nikmati dari sharing foto-foto keren Vivi di media sosial.Belakangan Vivi tergila-gila dengan drama seri India dan selalu menulis synopsis tiap serinya di medsos, ternyata banyak juga yang jadi followernya dan mengikuti tulisannya. Saking senangnya dengan India, akhirnya mereka berwisata ke India. Kisah perjalanan mereka yang ditulis di medsos dilirik dan dibeli oleh sebuah majalah wisata. Vivi makin keranjingan dengan budaya India dan merapat ke agenda budaya yang digelar kedutaan India. Jebret…..hadir dengan sari India yang cantik dan taraaa Aa pun berbaju India. Kami sampai penasaran dan ketika Ita bertanya pada Aa. Dengan kalem Aa menjawab, “Ah saya cuma menyesuaikan dengan Vivi aja kok.” Memang mereka pasangan yang kompak dalam menunjang hobby. Vivi juga demikian saat Aa yang keranjingan pesawat mengajak ke Halim Perdana Kusuma untuk merekam suara-suara pesawat.

Saat makin banyak pasangan suami-isteri mengalami masalah perkawinan, pasangan ini bisa menjadi teladan untuk selalu mensyukuri dan fokus dengan apa yang ada dan pasangan yang ada disebelahnya.

11260286_859486047492496_926965112850967989_n

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s