Berjumpa Malaikat Saat Umroh


Tahun 2005 akhirnya bisa berangkat Umroh dengan memakai Paket Low Budget seharga USD 900 untuk perjalanan selama 10 hari. Karena ini paket low budget maka jalan yang ditempuh memutar, ke Jeddah dengan pesawat Gulf Air. Rasanya kepergianku ini dengan langkah kaki kanan sebab ternyata bangku sebelahku kosong (satu-satunya yang kosong) sehingga bisa duduk selonjor maupun tidur meringkuk selama sekian belas jam perjalanan. Pesawatnya royal banget dengan makanan. Selama penerbangan, kami menikmati hidangan hingga 6 kali sajian. Pesawat transit di Bahrain dan kami memasuki bandaranya yang modern. Duduk di ruang tunggu bersama puluhan wanita berwajah Melayu dan melihatku dengan pakaianku yang “unik”, mereka langsung mengakrabkan diri. Tangan-tangan mereka langsung mengelus-elus bajuku yang berupa gamis dari kain katun batik. Tahun 2005 belum banyak perempuan Indonesia memakai gamis, batik pula. Sembari mengelus-elus bajuku, matanya kelihatan nanar dan sedikit kosong, aku pun bertanya”Mau kemana Mbak?”, “Kerja”, Dimana?, Dia dan teman-temannya menjelaskan, ternyata mereka di tempatkan pada beberapa Negara. “Dah pernah jadi TKW sebelumnya?,” aku bertanya lebih lanjut. Belum, jelasnya. Pantes matanya nanar gitu, pasti ada rasa was-was memasuki daerah dan pengalaman baru. Aku salut dengan para perempuan yang kurang pendidikannya tapi berani mengepakan sayapnya hingga mancanegara demi mendapat penghasilan yang lumayan. Kami akhirnya berpisah menaiki pesawat masing-masing dan menjemput nasib masing-masing.

Umroh
Akhirnya kami tiba di Jeddah dan langsung melanjutkan perjalanan ke Madinah melalui jalan darat. Bus melintasi jalan yang licin dengan pemandangan gurun pasir di kiri kanan. Kami sempat singgah di suatu mushala berbentuk kotak kecil seperti yang ada di dongeng-dongeng 1001 malam, saat antre di peturasan kami bertemu dengan serombongan wanita Arab berpakaian Abaya hitam, sesekali mereka merapikan kain penutup kepalanya….wuah mereka cuman melilitkan kain hitam tersebut ke kepala tanpa peniti atau jarum pentul sama sekali. Salah seorang wanita itu membelai Abayaku yang melambai-lambai tertiup angin, “Indonesia?”. Hmmm seraut wajah Melayu tersembul di antara lilitan kain hitam, aku mengangguk dan kami saling bertukar senyum dan sapa. Dia seorang TKW yang akan umroh bersama putri majikannya yang masih ABG – kami diperkenalkan.

Kami melanjutkan perjalanan dan akhirnya tiba di Madinah. Hati ini seperti tersedot pada emosi yang terdalam menyadari di sinilah kota tempat Nabi Muhammad SAW hijrah. Airmata mengalir deras bahkan melihat gugusan batu-batu bercadas yang banyak teronggok pikiranku lagi-lagi melayang pada 14 abad lalu. Subhanallah sampai juga kakiku di tempat junjunganku. Airmataku tak pernah berhenti mengalir sepanjang perjalanan ibadah, aku seperti menapak tilas jejak-jejak Rasulullah. Kami menginap di hotel Sheraton Al Harithya yang dekat banget dengan Masjid Nabawi… Setelah berbenah sejenak kami diajak ke Masjid Nabawi…. Melintasi area berlapis marmer yang luas….panas yang memantul sukses membakar pipi. Walaupun cuaca panas tapi tak setetes keringatpun keluar….lagi-lagi seluruh bulu kudukku berdiri memasuki masjid nan agung dengan banyak tiang itu. Suasana sejuk di dalam, guci-guci plastik berisi air zam-zam dengan gelas plastik di sebelahnya berada di sepanjang koridor. Karpet tebal membuat nyaman kami duduk seraya membaca surat-surat Al Quran usai shalat. Lagi-lagi ada yang meraba bajuku dan usai aku menyelesaikan bacaanku, tangan di sebelahku menyentuh tanganku. Saat kulihat ternyata dia TKW yang jumpa di mushala tengah jalan itu, aku bisa melihatnya dengan jelas saat kami bersebelahan. Tangan yang kuning langsat dilingkari beberapa gelang keroncong emas tersembul dari balik lengan baju hitamnya dan kuamati wajahnya, Subhanallah dia cantik sekali, mukanya mulus dengan mata berbentuk biji almond dinaungi alis nan tebal. Kami bercakap perlahan, ini sudah tahun ke tiga bagi wanita keturunan Madura ini di Saudi.

Aku masih takjub dengan kecantikannya serta kehalusan kulitnya yang bak pualam, akhirnya aku enggak tahan kutanyakan padanya, “Kowe ra pho pho to nduk? ” (kamu baik-baik aja kan Neng?). Dia mengangguk-angguk sembari tersenyum, “Majikanku baik Mba, tugasku cuman melayani anaknya yang kemarin aku kenalin itu..” Aku masih takjub “Tapi kamu cantik sekali…ga diganggu?”, “Di rumah itu, suamiku jadi supir – bibiku jadi juru masak. Aku enggak sendiri…tenang Mbak, aku apik-apik wae kok,”dia meyakinkanku. “Mbak wis ke Raudhah (makam Nabi yang ada di Masjid Nabawi),” tanyanya. “Belum, kata tour leaderku besok aja sebab saiki dah nanggung bentar lagi tutup. Lagian aku gak tau jalannya..segini gedenya Nabawi.” Masih ada waktu kok, yuk aku anter – aku dah beberapa kali ke sana, ajaknya yang segera kusambut. Kami bergegas sembari bergandengan tangan, dia bilang, “Kita kudu buru-buru nih.” Gini aja deh, aku menunjukkan cara berlari cepat. Karena memakai kaos kaki tebal maka aku bisa berlari-lari dilanjutkan dengan meluncur di atas lantai marmer seperti sedang bersepatu roda…dia ketawa dan mencoba mengikuti caraku tapi gak bisa karena dia tak memakai kaos kaki. Akhirnya kami sampai di Raudhah dan dia langsung menyuruhku sholat 2 rakaat dan berdoa sementara dia berjanji akan menjagaku dari desakan massa yang berebut. Aku cuman bisa sholat sembari menitikkan air mata dan aku tak merasa perlu untuk meminta apapun pada Allah karena kusadar bisa sampai disini saja adalah karuniaNya yang terbesar – apa lagi sih yang aku cari. Usai aku sholat 2 rakaat itu, kami meninggalkan Raudhah dengan bergandengan tangan. Dia sudah janjian sama keluarga majikannya pada suatu spot di depan Nabawi. Kulihat spot yang berada di antara lampu-lampu itu menjadi titik temu bagi rombongan-rombongan lain. Para lelaki dengan wajah penuh penantiannya celingukan menunggu isteri, anak atau ibunya…karena kan memang dipisah tempat ibadah perempuan dan lelaki.

Perjalanan dilanjutkan ke Mekah. Sampai di hotel, rombongan langsung berjalan bersama ke dalam Masjidil Haram. Setapak demi setapak kami menuruni anak tangga Masjidil Haram dan secara serempak tanpa janjian kami (baik lelaki maupun perempuan) menangis seraya berseru Allahuakbar, Labaika Allahuma Labaika. Ka’bah begitu dekat dan terjangkau. Kami bersama thawaf dan dilanjutkan dengan sa’i. Di Mekah terasa sekali hausnya untuk beribadah dan terus beribadah sepanjang waktu. Ketika tengah malam tiba, kembali kami mengunjungi Baitullah dan ternyata ramai sekali umat seantero dunia di Masjidil Haram dan terutama dimuka Ka’bah. Salat malam dan doa dipanjatkan pada setiap sujud. Pagi dan siang kembali kami ke Masjidil Haram hingga terbetik keinginan untuk mencium Hajar Aswad kendatipun itu sebenarnya tidak wajib. Saya bersama teman sekamar yang kendatipun baru kenal tapi kami langsung dekat. Berkali-kali mencoba tapi tak kunjung bisa kami mendekati Hajar Aswad. Bergandengan kami menjauhi Hajar Aswad dan tak sengaja kami terpisah. Saya sholat dua rakaat minta ampun kepada Allah, mungkin ada salah diri ini sehingga tak diperkenankan menyentuh Hajar Aswad? Usai shalat 2 rakaat, saya mencoba sekali lagi mendekati Hajar Aswad dan kali ini usaha berjalan lancar. Tetiba sudah berada di muka Hajar Aswad. Segera saya menyurukan muka ke dalam lobang Hajar Aswad sembari berseru dalam hati Allahu Akbar. Usai berseru memuja dan memanggil-manggil Allah, saya berusaha keluar dari kerumunan yang ada. Dan itu perjuangan yang sulit, saya terdorong dan terdorong lagi. Saya mengulurkan tangan ke atas meminta tolong pada askar (tentara kerajaan) yang berjaga tapi dia mungkin tidak mengerti maksud saya. Ketika itu rasa putus asa sudah memenuhi dada. Tapi putus asa bercampur lega, “ah mungkin takdirku untuk mati di sini. Tepat dimuka Ka’bah.” Memikirkan hal itu tiba-tiba hati menjadi tenang. Namun di depanku seorang pria tampan berambut keemasan menengok kebelakang memandangku seraya tersenyum teduh. Dan wuus tiba-tiba saya melayang tertarik ke belakang seperti dalam film kartun dan mendarat tepat di tangga Masjidil Haram. Saya takjub sekaligus bersyukur, “ah aku diberi mukjizat Umroh.” Mulut tertutup rapat tak berani menceritakan pengalaman ini ke teman seperjalanan. Namun ketika bercerita ke teman setibanya di Jakarta, dia mengatakan yang menolong saya itu malaikat.

Saya mencari teman sekamar tadi. Ketika berjumpa matanya bengkak habis nangis karena dia juga merasa sedang “dihukum” tak boleh menyentuh Hajar Aswad. Saya berusaha membesarkan hatinya sekaligus menggandengnya mendekati Hajar Aswad. Kali ini usahanya berjalan lancar dan dia berhasil mencium Hajar Aswad. Begitu juga untuk keluarnya, dia cukup menggapai tanganku yang menantinya di belakang. Kami berpelukan erat dengan penuh rasa syukur.

Mujizat belum berakhir, kali ini mujizat yang kocak. Selama menjalankan ibadah baik ketika di Madinah ataupun Mekah, alas kaki yang saya pakai adalah kaos kaki dan sandal jepit. Sandal jepit dilepas begitu memasuki masjid. Ada spot favorite untuk menyimpan sandal jepit saat tiba di Masjidil Haram yakni tepat di balik pintu gerbang tinggi besar dari kayu yang tepat berhadapan dengan hotel Sofitel tempat rombongan kami menginap. Beberapa teman yang mengikuti cara saya kapok karena sandal selalu hilang. Untungnya berkali-kali mengunjungi Masjidil Haram, sandal jepit selalu setia menanti. Hingga hari terakhir di Mekah sembari beberes koper, saya niatkan untuk meninggalkan sandal jepit di hotel usai dari Masjidil Haram terakhir kalinya. Tak disangka begitu menguak pintu gerbang usai beribadah dan mengucapkan salam perpisahan, sandal jepit saya hilang. Jadilah saya berjalan hanya beralas kaus kaki sembari bercerita soal niat saya tersebut ke teman-teman. Ah Allah juga bisa bercanda rupanya.

Sungguh ibadah Umroh ini sangat berkesan dan makin mempertebal iman Islam. Semoga suatu hari kelak, saya diperkenankan mengunjungi lagi rumah Allah.

satu2nya foto yang ada cuman dengan onta ini karena waktu itu memang niat banget ga foto2. nah kalau foto bersama onta kan difotoin sama tukang foto polaroid disana.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s