Exercise is Medicine so Make Your Move, Move and Move


Hari itu tepat delapan hari setelah mudik ke kampung halaman di Jogjakarta, saya sudah siaga menanti giliran bertemu dokter Abdul Haris – internist langganan di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta. Sebagai seorang penderita diabetes memang saya harus ekstra hati-hati dalam menjaga kesehatan termasuk juga rutin kontrol ke rumah sakit. Pagi –pagi saya sudah check up komplit di laboratorium mereka dan hasilnya keluar pk. 04.00 sore. Daripada bolak-balik, saya check jadwal dr Abdul Harris. Thank God hari itu jadwal dr Abdul Haris sampai malam.

soylution.co.id
soylution.co.id

Hati saya gembira karena hasil lab bagus semua. Jadi saya masih senyum-senyum saat dr Abdul Harris mempelajari hasil lab saya. Bagus ya dok, demikian kata saya dengan bangga.

Dr Abdul Haris menaikan alisnya dan segera menjawab, “ Hmm sekilas sih angkanya bagus semua. Tapi tahu enggak, angka kunci dalam laporan lab ini yang membuka fakta.”

Apaan tuh dok, saya keheranan.

“Dokter lain mungkin tidak berani mengatakannya. Tapi demi kebaikanmu, saya akan mengatakannya, “ jawabannya membuat saya berdebar ketakutan. Apa penyakit saya bertambah lagi?

“Umumnya seminggu bahkan dua minggu sebelum kontrol rutin seperti ini, pasien akan memperbaiki perilaku kesehatannya bahkan kalau perlu menambah dosis obatnya supaya hasil labnya bagus. Hasil ini jelas menunjukan bahwa kondisi bagus anda tuh tidak dicapai dalam jeda waktu yang lama. Parameter HbAIC ini yang membuktikan. Rentang normalnya antara 5 – 7 sementara milik anda, mbaaak 8.” Demikian dr Abdul Haris menjelaskan panjang lebar. Penjelasan yang bikin “sakitnya tuh di sini” karena buat apa saya merekayasa kesehatan saya sendiri. Saya tidak perlu mempertanggungjawabkan hasil lab saya ke siapapun kecuali ke diri sendiri. Tapi saya berpikir keras dan mencoba mencari jawaban atas penjelasan dokter Haris. Dheezig, akhir teringat aktivitas selama di Jogjakarta.

Jogja Solopos
Jogja Solopos

“Dook, saya mana mungkin merekaya seperti itu. Kan saya berkepentingan pada kesehatan sendiri. Saya ingat waktu mudik ke Jogja tuh tiap hari travelling bareng suami dengan jalan kaki. Kami menginap di hotel dekat stasiun Tugu dan sarapan pagi selalu ke pasar Beringharjo. Jalan kaki ke sana tuh nyaris satu kilometer sendiri. Sarapan pagi favorite kami pecel Beringharjo. “ demikian saya menjelaskan dengan bersemangat dan meneruskan mengenai pecel dan liburan kami di Jogja.

“Pecel Jogja tuh beda dengan gado-gado Jakarta,dok. Kalau gado-gado Jakarta kebanyakan terdiri dari sayuran yang direbus cukup lama maka sayuran di pecel Jogja sepertinya direbus sebentar jadi terasa masih crunchy. Sayurannyapun aneka ragam dan berwarna. Ada wortel dan warna oranyenya jelas sangat menggoda. Ada bunga papaya yang putih cantik tetapi rasanya pahit. Saya makan juga sebab kata suami, bunga papaya sangat bermanfaat bagi kesehatan. Belum lagi ada daun kenikir, kecipir dan daun singkong. Tatanannya menggunung benar-benar mengundang selera.”

Bumbu kacangnya dari pecel Jogja cair dan minimalis tidak kental. Rasanyapun tipis. Sepertinya kita benar-benar diminta untuk menikmati sayur-mayur. Tatanannya yang menggunung menggoda kita agar segera menyantap. Godaan juga melambai dari ubo rampe (lauk pelengkap) dari tahu-tempe, gimbal udang, sate udang, ayam goreng dan burung dara goreng.

Habis sarapan demikian kami mulai jalan dengan memakai bus umum yang haltenya ada tepat di depan pasar Beringharjo. Umumnya kami menuju tempat wisata yang membutuhkan kegiatan jalan kaki yang cukup banyak, dok, demikian saya meneruskan cerita.

team touring.net
team touring.net

Pulangnya pun kami turun di Mirota Batik yang ada di muka pasar Beringharjo. Dan dari situ kami jalan kaki ke hotel. Istirahat di hotel sebelum malamnya jalan lagi.

Dokter Harris mendengarkan penjelasan itu sembari manggut-manggut, “Mbak, jadi sekarang anda tahu kan kalau gerak dan asupan makanan yang sehat akan menjaga kadar gula anda?. Memang idealnya setiap habis makan, anda harus terus bergerak agar makanan yang masuk segera dicerna dan tidak menjadi timbunan gula dalam tubuh.”

Saya manggut-manggut mengerti. Dan dokter Harris melanjutkan penjelasan bahwa tahun ini Persatuan Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga (PDSKO) membuat kampanye “Exercise is Medicine” yaitu latihan fisik sebagai resep medis bagi pasien. Berolahraga teratur dan terukur atau melakukan aktifitas lain yang membuat tubuh bergerak secara maksimal – seminggu tiga kali akan memperkuat jantung dan menjaga dinding arteri tetap lentur.

Olahraga juga meningkatkan kepadatan tulang, memperbaiki mood dan menambah energi serta memaksimalkan metabolisme berbagai organ tubuh. Tubuh akan terus membakar lemak pada saat anda berhenti berolahraga selama 48 jam ke depan. Itu sebabnya paling sedikit Anda harus berolahraga dua hari sekali.

Maka jadilah saya sering berjalan kaki dalam menjalankan aktifitas. Misalnya untuk keluar dari kompleks perumahan tempat saya tinggal. Atau turun satu halte sebelum halte tujuan dan melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki untuk mencapai tujuan. Demikian juga saat pulang ke rumah, saya lebih memilih berjalan kaki.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s