Saat Nyonyah Besar Narsis, Yang Lain Jadi Histeris


Kami berempat langsung jejingkrakan saat kakak sulung yang mukim di Jogja memberitahu akan ke Jakarta awal Januari lalu. Memang sih Jogjakarta – Jakarta relatif dekat makanya secara perorangan kami sering jalan ke Jogja. Tetapi ketemu full team berlima ya terjadi kalau kakak ke Jakarta dan terakhir kali tuh tiga tahun silam saat saya menikah. Setahun silam kakak dirawat di RS selama satu bulan penuh karena diabetes dengan kadar gula 800. Makanya ketika kakak dinyatakan sembuh, dokternya mengingatkan kesembuhannya adalah keajaiban yang harus disyukuri pada sang Khalik. Kami sangat bersyukur kakak bisa melewati masa kritis dan pulih kembali makanya ketika momen kebersamaan muncul, kami tentu bersemangat menikmatinya.

Kami sepakat untuk menginapkan kakak di rumah si ketiga, secara tempat tinggalnya yang paling mengakomodir karena kemewahannya. Sebutlah si ketiga ini memang paling sejahtera diantara kami berlima. Ditambah dengan kesenangannya untuk selalu menjadi penyandang dana maka kami lebih senang memanggilnya Nyonyah. Kebetulan suaminya ke luar kota. Jadilah sore itu usai pulang kerja, semua ngeriung dan chit-chat seru berlima. Saking kangennya, malam itu semua sepakat tidur bersama di kamar utama Nyonyah. Pk. 05.00 pagi pintu kamar terkuak dan menyembul kepala Yu Tini (ART si Nyonyah) yang mesem-mesem lihat lima emak tidur bareng, ada yang tergeletak di tempat tidur, Ada yang tidur di bawah. Dan taraaa….ketika Yu Tini  menampakan seluruh tubuhnya ada nampan berisi setumpuk risoles mayonesse hangat baru diangkat dari penggorengan serta beberapa mug berisi teh hangat. Hulala, kami saling berpandangan, “Ternyata si Nyonyah selama ini breakfast in bed.” So jadilah pagi itu kami menikmati breakfast in bed untuk pertama kalinya.

Nyonyah sendiri juga memiliki kisah yang dramatis. Tiga tahun silam dia mengalami perdarahan yang luar biasa. Kesimpulan awal dari dokter, dia menderita gejala kanker. Dia segera mendaftar ke klinik spesialis kanker seorang dokter di Bandung yang konon “sakti” tapi mahal. Tak butuh waktu lama bagi dia untuk turun berat badannya secara drastis akibat perubahan pola makan juga karena obat yang dikonsumsinya. Suatu hari dia pingsan dan segera dibawa ke Rumah Sakit. Di RS itu dilakukan pemeriksaan seksama dengan peralatan canggih yang menyimpulkan bahwa lambungnya rusak akibat kerasnya obat yang dikonsumsi. Dan bahwa sebenarnya Nyonyah menderita Pre Menopause bukan kanker. Sedih sekaligus lega, sedih karena dia menderita akibat kecerobohan diagnosa. Lega dia tidak menderita kanker. Tapi hingga kini dia jadi mengalami kesulitan BAB makanya tiap hari harus mengkonsumsi obat pencahar. Disini saya baru menyadari bahwa bisa lancar BAB itu juga harus disyukuri.

SalpiUsai menghabiskan sarapan, kami mandi dan segera meluncur ke pemakaman untuk nyekar ke makam ayah dan ibu. Dari sana perjalanan dilanjutkan Pondok Indah Mall dimana adik bungsu  menggiring kami ke teras outdoor yang berlatar belakang pemandangan kolam renang. Dia segera mengeluarkan Tongsis ( tongkat narsis), “Gals, photo session is starting.” Usai bernarsis ria, para photomodel kecapekan dan kelaparan. Maka kami bergegas ke sebuah resto yang sudah dipesan si Nyonyah.

Santap nyam-nyam, tak perlu waktu lama untuk sapu bersih hidangan yang tersaji. Dan sembari menikmati teh Ocha sebagai penutup, kami mulai mengupload foto-foto narsis ke jejaring sosial media.

“Eh jangan lupa ngetag gue ya, “ demikian kami saling mengingatkan. Nyonyah dengan polos bertanya, “Kenapa fotonya harus diteken (ditandatangan) sih?”,

Kami empat saudaranya saling berpandangan sebelum letusan tertawa meledak di sudut resto itu. Setelah menerangkan arti TAG,  celetukan-celetukan Nyonyah membuat kami menyadari bahwa selama ini gadget canggih cuma dipakai SMS dan telpon. Kakak yang baru menyadari hal ini berkomentar, “Idiiih Nyonyah lola banget ya.”

“Lola apaan sih?,” kembali dia bertanya yang kali ini bikin si kakak nyaris terjungkal dari kursinya saking ketawa dengan keras. Dan lucunya ketika kami jelaskan bahwa LOLA artinya loadingnya lama. Dengan polos dia menjawab, “Iya nih, si XYZ (nama operator selulernya) memang lama. Sebel deh.” Wiiiing mari tertawa berseri. “Makanya pakai Smartfren yang anti lelet dong,” kata saya.

Akhirnya setelah suasana tenang, si kakak memberitahukan tujuan tambahannya dia ke Jakarta. Yakni mencarikan tempat buat Praktek Kerja Lapangan bagi Fina – anak sulungnya yang kuliah di jurusan Jurnalistik, di Jogjakarta. Fina sudah berusaha menghubungi sendiri majalah-majalah yang mayoritas ada di Jakarta tapi tak ada response sama sekali. Maka si emak memutuskan untuk turun gunung, “Temenin aku hunting tempat PKL-nya Fina ya.” Kami segera mengiyakan permintaannya.

Jadilah keesokan paginya kami bertiga meluncur ke suatu gedung di bilangan Kuningan tempat dimana suatu grup majalah ternama berkantor. Kakak langsung diminta menyerahkan berkas lamaran dari Fina di meja Resepsionisnya yang sesuai prosedure akan meneruskan ke bagian HRD. Kami masih duduk di lobby sembari bisik-bisik. Eh resepsionis yang lebih cocok jadi model itu karena cantik dengan potongan bob nungging yang keren menghampiri. Tubuh tingginya dibalut sweater turtle neck gombrong berwarna kelabu yang terjuntai hingga sepahanya, tanpa bawahan lagi. Cukup stocking putih membalut kaki jenjangnya. Lehernya dihiasi dengan kalung dari kayu berwarna-warni. Dan dengan ramah dia menyapa kami,” Bu, kalau melalui desk HRD prosesnya lama. Seandainya ibu sekalian ada kenalan orang dalam sini,prosesnya akan lebih cepat.”

Kami berpikir sesaat, kemudian saya ingat suatu hari pernah kenalan dengan seorang Managing Editor (ME) salah satu majalah dari grup itu. Ketika itu saya penasaran karena tak bisa upload tulisan  di Microsite mereka. Saking penasarannya, saya segera meluncur ke sana. Maksud hati ingin menemui bagian IT nya gak tahunya Managing Editornya yang menemui saya. Kami sama-sama terkesan, percakapan kami berjalan cair.

“Mbak, saya kenal sama ME itu. Tolong sampaikan ke dia ya,” demikian saya menjawab sok akrab. Resepsionis berjanji segera meneruskan. Keesokan harinya saya menelpon Managing Editor itu dan ternyata sang resepsionis sudah meneruskan lamaran Fina sejak kemarin.  Masya Allah, ternyata di Jakarta masih bertebaran orang yang baik hati. Sebulan kemudian Fina sudah memulai PKL di majalah tersebut selama tiga bulan masa kerja dengan fasilitas sarapan pagi serta makan siang prasmanan. Belum lagi tiap hari dapat imbalan sebesar Rp. 47 ribu. Fina menginap di rumah Nyonyah. Hari pertama Fina sampai kantor, dia segera melapor di Whatsapp grup keluarga, “Nyonyah, Fina sudah sampai kantor.”

Kami tertawa geli membacanya dan Nyonyah segera menjawab, “ Mba’ Naaa jangan ikut-ikutan panggil Nyonyaah.”

Ahahahaha semua ikut komen di Whatsapp Grup. Dan begitulah kisah di balik foto selfie ini. Ada persaudaraan yang manis, asam dan gurih. Ada kebaikan orang-orang asing di Jakarta yang luar biasa.

Advertisements

4 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s