Berwisata Sembari Menangguk Rupiah, Kenapa Tidak?


Saya rasa demam traveling yang terjadi lima tahun belakangan ini tak bisa dillepaskan dari peran Trinity the Naked Traveler yang mempopulerkan traveling dalam maupun luar negeri secara low budget. Langkahnya diikuti Claudia Kaunang yang membukukan tips-tips berwisata ke mancanegara dengan hemat membuat orang Indonesia demam wisata. Adik bersama teman-temannya tiap tahun pergi ke luarnegeri dengan panduan karya Claudia Kaunang namun saya sendiri hanyalah seorang traveler tanpa inovasi. Jadwal saya yang mukim di Jakarta adalah ke Jogja tiap tiga bulan sekali semata karena Jogja is my comfort zone. Sebagai anak yatim dan piatu, kakak dan beberapa saudara yang tinggal di sana adalah oase saya. Di Jogjapun tak ada tempat yang saya kunjungi selain Malioboro dan deretan candi seputaran Jogja…that’s it, tak lebih tak kurang…

Hingga tiga tahun silam saya menikah dengan seorang lelaki yang mukim di Krian, Jawa Timur. Krian itu termasuk dalam wilayah kabupaten Gresik tapi secara geographi letaknya malah dekat banget ke Mojokerto yang bisa dicapai dalam waktu 30 menit sementara jika kami ingin ke kota Gresik malah memakan waktu minimal satu jam. Salah satu kesepakatan kami adalah menjalani pernikahan semi Long Distance Relationship karena pekerjaan freelance serta aktifitas saya ada di Jakarta, sembari perlahan mencari peluang usaha di Surabaya atau Jawa Timur. Makanya jadwal saya menjadi dua minggu di Jakarta dan dua minggu kemudian ke Krian, Jawa Timur. Tidak ada keberatan dari kedua belah pihak karena suami sendiri jam kerjanya cukup panjang jadi jarang di rumah. Kedua buah hati suami yang baru berusia 5 tahun dan 10 tahun tinggal bersama ibu mertua di kota Malang.

Candi Brahu

Suatu hari suami mengajak saya jalan-jalan ke kota Mojokerto yang terletak 12 km dari tempat kami tinggal. Kotanya bersih, tertib dengan jalan yang lebar sungguh berbeda dengan Gresik yang penuh pabrik dan gersang. Sembari menikmati beberapa tempat wisata kuliner yang unik. kami juga menikmati suasana malam di sana yang khas, minum kopi di pinggir Sungai Brantas. Kami belum sempat mengeksplorasi Mojokerta sebagai tempat situs Trowulan (peninggalan kerajaan Majapahit) yang bersejarah. Dan kesempatan itu tiba ketika kedua anak kami libur sekolah dan segera bergabung ke tempat kami di Krian. Jadilah jadwal kunjungan liburan pertama ke kota Mojokerto dan singgah di Candi Brahu, candi pertama yang terlihat. Sebagaimana lazimnya mayoritas candi di Jawa Timur, bentuknya lebih simpel dari candi di Jawa Tengah terdiri dari batu bata merah. Si Sulung mengamati dengan cermat konstruksi dan arsitektur candi bahkan susunan lantai yang seperti anyaman menjadi perhatiannya. Ketika kami meninggalkan candi tersebut, dia menatap ke belakang kendatipun mobil kami sudah meluncur dan bertanya, “Ma, bagaimana caranya para penemu reruntuhan batu-batu bata itu bisa menyusun kembali sesuai bentuk asli candi?”

Candi Brahu2

Terus terang saya dan ayahnya tercengang mendengar pertanyaan kritis dari anak umur 10 tahun. Saya kemudian berusaha menerangkan bagaimana para arkeolog harus membaca manuskrip yang ada serta melakukan uji coba dalam menyusun batu-batu itu hingga berdiri menjadi Candi. Makanya proses rekonstruksi Candi pasti berjalan bertahun-tahun. Percakapan mengenai Candi ini menjadi semacam “ice breaker” buat saya berhubungan dengan si Sulung yang pendiam di rumah tapi sering membuat masalah di sekolah. Mungkin karena selama beberapa tahun belakangan ini si Sulung tumbuh sendiri tanpa perhatian sebab beberapa tahun lalu ibu kandungnya menderita gagal ginjal dan akhirnya meninggal. Kami melanjutkan ke Candi Tikus dan museum Majapahit. Si Sulung menularkan antusiasmenya pada si Bungsu yang sibuk berlari-lari sepanjang tempat wisata.

Candi Tikus - Mojokerto
Candi Tikus – Mojokerto

 

Lintang
Di Museum Majapahit pada Batu yang jadi alas tempa senjata

 

Perjalanan wisata berlanjut hari demi hari, kali ini ke Masjid 1 Malam, Malang (konon karena dibangun dalam waktu satu malam)

Masjid 1 Malam

Di lumpur Lapindo

lapindo2

Jolotundo tempat pemandian raja-raja, banyak pemimpin negeri yang ziarah ke sini. Airnya dipercaya bisa menjadi obat dan Metro TV pernah menyebut dalam reportasenya bahwa air Jolotundo termasuk terbersih di dunia

Berenang2

 

Akhirnya traveling demi traveling kami jalani. Sebelum mengunjungi tempat wisata, saya biasakan selalu membuka Google bersama si Sulung. Mempelajari obyek yang akan dikunjungi. Hubungan saya dengan anak-anak menjadi dekat. Lucunya saat hasil kunjungan dalam bentuk foto ysaya upload ke akun Facebook malah mengundang komen dari beberapa teman yang mukim di Jawa Timur, “Aku aja yang asli Jatim malah belum pernah kesini. Sepertinya bagus juga jika kamu bisnisin aja Dee.”

Saya melongo mendengar usulan dia tapi lantas teringat bahwa sepanjang jalur Jawa Timur yang kami lalui memang jarang ada biro wisata. Padahal Jawa Timur sarat dengan tempat wisata yang unik tapi belum terkenal. Satu kota seperti Banyuwangi saja tidak cukup satu hari dikunjungi karena banyaknya obyek wisata alam di sana, belum lagi wisata kuliner serta festival budaya dan kerajianan khas Banyuwangi. Wisata religi juga banyak tersebar di Jawa Timur sebab Jawa Timur ternyata menjadi pusat pengembangan Islam yang penuh perjuangan dan memakan waktu yang panjang. Belum lagi ada karya batik yang variatif di Jawa Timur, masing-masing daerah membawa ciri khasnya tersendiri. Batik Sampang Madura memiliki ciri warna alam berbeda dengan batik Ponorogo dan beda lagi dengan batik tulis yang sederhana dari Sidoarjo. Karnaval budaya Jember Fashion Week sudah mendunia dan sekarang Banyuwangi mulai menyusul. Hemm menuliskan paragraph ini membuat ingatan menjelajah ke aneka obyek wisata Jawa Timur yang belum kami kunjungi dan yakin pasti banyak orang yang juga belum mengunjunginya. Bukankah hidup ini mengejutkan? Dari seorang traveler tanpa inovasi malah diminta membuat bisnis wisata. Apakah ini akan menjadi peluang bagi saya?

Untuk petualangan alam yang cukup berat semacam di kawah Ijen ini cukup dijalani berdua suami saja.

Ijen

 

“Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba menulis Asia Wisata”

Advertisements

2 comments

  1. ya ini kak demam travelling dan backpacker membara beberapa bulan ini. keren kak foto-fotonya. sama seperti kakak sebelum ke tempat traveling nya selalu liat informasi dulu sama mbaj google.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s