Kartu Kredit vs Debt Collector


Bank Indonesia akan segera mengeluarkan tiga peraturan  mengenai alih daya (outsourcing), wealth management dan alat pembayaran menggunakan kartu (APMK). Peraturan tersebut terutama dikarenakan munculnya kasus tewasnya Irzen Octa di tangan debt collector Citibank serta adanya pembobolan dana milik  prime customer Citibank oleh Melinda Dee – Relationship Manager bank tersebut. Namun yang mengherankan dari peraturan tersebut adalah pengesahan pemakaian tenaga outsorcing untuk kegiatan bank yang termasuk kegiatan inti perbankan.

BI membagi 2 kegiatan bank berkaitan dengan ketenaga kerjaannya,  pertama adalah pekerjaan inti seperti penghimpunan dana dan penyaluran kredit. Kedua, berkaitan dengan kegiatan penunjang usaha, terbagi lagi menjadi pendukung usaha seperti telemarketing, teller, customer service dan debt collector. Sedang di luar pendukung usaha, misalnya sopir, satpam dan tenaga kebersihan. Sungguh mengherankan pekerjaan teler, CS, telemarketing dan debt collector dimasukkan sebagai tenaga penunjang usaha dan boleh dialih dayakan.

Maka rasanya kita bakalan menemukan kasus-kasus seperti Irzen Octa di masa datang. Saya sendiri teringat pada kasus hutang kartu kredit vs debt collector yang pernah dihadapi seorang sahabat. Saat Emon menarikku itu dia menceritakan mengenai hutang 7 kartu kreditnya yang mencapai outstanding hingga nyaris Rp.200 juta,

“Jeng, elo kan pernah kerja di bank, coba lihatin ini…gimana gue bisa lepas dari belitan hutang KK ini?”. Kupelajari semua tagihannya yang hanya mampu dibayar pada minimum payment dan fakta bahwa outstanding hutang  pokok sebenarnya “hanya” sekitar Rp. 90juta, jumlah Rp.200juta itu merupakan bunga berbunga. Kami  akhirnya mencoba berkonsultasi pada pengacara-pengacara yang rajin beriklan di Koran. Penyelesaian yang mereka tawarkan, saya pikir kurang memberikan solusi yang tepat karena mereka malah menyarankan untuk “pemutihan” utang KK alias tidak membayar sama sekali,

“Elo harus bertanggung jawab ma utang elo ya…baru gue bantu mikirin gimana baiknya.” Ya iyalah jeng, tapi kalau gue bayar minimumnya aja kapan gue bebas dari utang gue.

Mempelajari ketentuan perbankan berkaitan dengan Non Performing Loan KK akhirnya aku saranin ke sohibku itu, “Berhenti bayar sama sekali terus berlarilah elo dari debt collector. Napas elo kuat gak?”.

Emon menyanggupinya  karena ternyata waktu apply kartu tersebut dia memakai alamat kost jadi tinggal pindah kost saja. Pernah debt collector bikin ribut di kantor  tapi Datuk K cukup bijaksana dengan mengatakan bahwa Emon sudah keluar dari perusahaan tempat kami kerja sehingga selanjutnya DC tidak menyatroni ke kantor. Demikianlah setelah kucing-kucingan beberapa bulan dengan Bank, akhirnya pihak bank menawarkan pembayaran yang lebih ringan dari outstanding pinjaman yang Rp.200juta itu dengan mengeluarkan komponen bunga-berbunga yang ada.

Hanya sekitar dua bulan Emon sanggup mencicil kewajibannya sebab dia harus menanggung beban biaya pengobatan sakit kanker yang diderita Ibu. Permintaan Emon untuk mengajukan keringanan tak digubris, mana mau Bank menggubris alasan, “uang saya kepakai buat pengobatan Ibu saya.” Kali ini debt collector sudah mengetahui rumah asal Emon karena saat rescheduling itu data diperbarui. Beberapa kali DC menyatroni rumah orangtua Emon itu tapi mereka pasti tidak di rumah karena Ibu Emon sedang mengikuti terapi pengobatan herbal dan menginap di daerah Sukabumi, Emon sendiri ulang alik Sukabumi – Jakarta…menjaga ibunya sekaligus bekerja.

Aku teringat suatu tulisan berseri  di suatu Koran Bisnis mengenai masalah jeratan hutang kartu kredit ini, segera kuhubungi pihak-pihak di Bank Indonesia yang tercantum dalam tulisan itu sebagai pihak yang menangani masalah itu…ajaibnya, pihak disana malah menyalahkan tulisan itu, “Bohong tuh tulisan itu, kalau mau merundingkan hutang kartu kredit yang ke Bank yang bersangkutan – bukan ke kami (BI).” Aku segera menghubungi wartawan yang menulis seri itu dan menyampaikan tanggapan dari orang BI, si wartawan setelah cross check statementku segera memberikan no contact langsung pejabat BI selevel direktur yang menjadi nara sumbernya, tak kusia-siakan nomor contact itu segera kuhubungi….tapi aku tidak melontarkan keluhan mengenai kartu kredit malahan kugunakan kesempatan itu untuk berjualan produk kantor- aku yakin jika telah memiliki kedekatan dengan beliau maka sewaktu-waktu bisa minta bantuannya. Di lain pihak amunisi baru ini memberikan kekuatan buatku menegosiasi ulang hutang-hutang Emon…dan entah kenapa kali ini aku bisa sangat “kejam” bernegosiasi. Semua pinjaman bisa direschedule kembali dengan potongan diskon yang melegakan bahkan ada yang hingga 50% dan semuanya dibayar dengan cicilan.

Kecuali pada satu bank yang sangat arogan, DC itu bahkan sempat menoyor-noyor kepala ibunda Emon yang kebetulan sedang pulang ke rumah usai perawatan- aku jadi teringat bahwa Presdir dari Bank itu pernah kutulis profilenya pada Social Media ini, dan waktu itu tulisan tersebut tayang langsung ku email ke Ybs sembari memberikan link dari tulisan itu (tak sulit mendapatkan alamat email Ybs. karena banyak temanku yang bekerja di Bank itu). Kembali aku email beliau minta bantuan seraya mengingatkan akan tulisanku terdahulu…email kulayangkan pk.09.00 pagi, pk.02.00 siang Emon  sudah ditelpon pihak bank yang dengan suara halus lemah lembutnya bertanya,

“Jadi Anda ingin kondisi yang seperti apa?”…Emon segera melakukan tawar menawar yang di-approve pihak Bank dan akhirnya lunaslah semua kewajiban Emon.

———————Kesimpulan

Kesalahan banyak terjadi pada Cardholder yang terlena pada uang plastik dengan plafond yang cukup tinggi sehingga asik berbelanja tanpa ingat bahwa itu harus dibayar kembali. Pembayaran dengan minimum payment sangat tidak dianjurkan karena sisa saldo yang belum dibayar akan dikenakan bunga berbunga.

Pihak Bank tak pernah sudi menegosiasi hutang nasabah KK jika nasabah belum macet sama sekali…maka daripada repot gali lubang tutup lubang, segeralah hentikan pembayaran Anda dan tunggu pihak Bank akan bersedia bernegosiasi.

Peraturan Bank Indonesia  lebih berpihak kepada industri perbankan, BI membiarkan saja kartu kredit diobral sedemikian rupa tanpa memperdulikan sikap kehati-hatian -contohnya  Office Boy di kantor saya saja bisa punya 2 kartu kredit.  Selain itu suku bunga kartu kredit tak bergeming sama sekali dari tingkat yang 3%-3.5% per bulan padahal tingkat suku bunga deposito sudah turun hingga sekitar 5%/tahun. Bayangkan betapa gurihnya bisnis kartu kredit ini….

Dengan berbagai carut marutnya ketentuan yang sangat memback up bisnis ini tak heran bahwa dikemudian hari kasus-kasus Irzen Octa akan tetap marak

Repost dari Kompasiana 01 December 2011 | 15:15 Dibaca: 1095, Komentar: 24   Rating: 1

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s