Mengingat Kembali Kasus Bank Century dan Hermanus Hasan Muslim – sang Direktur Utama


Bank Century

Krisis keuangan global yang dipicu transaksi sub prime mortgage oleh Lehman Brothers benar-benar telah meluluh lantakan perekonomian dunia dan tentu saja Indonesia merupakan negara yang dengan mudah dan cepat terkena dampaknya. Kurs Rupiah terhadap Dollar meluncur tajam, saham-saham di bursa rontok tanpa ditahan dari IHSG yang tadinya pernah mencapai  2800 langsung merosot menjadi 1100an. Wuih berat banget beban rakyat Indonesia…..
Setelah IHSG jatuh disebabkan para investor berlomba menjual sahamnya maka giliran perbankan mengalami dampaknya. Penetapan kenaikan suku bunga bank oleh BI (yang konon berdasarkan nasehat dari IMF untuk mencegah terbangnya dana-dana ke luar negeri) menyebabkan perang tarif di dunia perbankan. Dengan cepat dana akan berpindah dari bank ke bank mencari penawaran tertinggi. Rate deposito saat ini sudah jauh di atas BI rate dan rate penjaminan belum lagi iming-iming cash back di luar suku bunga deposito yang diberikan.

Bank yang pertama-tama terkena dampaknya adalah Bank Century. Sekitar tgl.20 an November ini dikabarkan Bank Century kalah kliring. BI kemudian coba menutupi dengan mengatakan bahwa Bank Century hanya mengalami keterlambatan dalam penyetoran kliring. Namun anehnya kemudian seorang sales dari perusahaan sekuritas PT.Bhakti Investama ditangkap karena dianggap menyebarkan gossip yang meresahkan masyarakat. Hm, tidak lama kemudian pemerintah mengumumkan bahwa Lembaga Penjamin Simpanan mengambil alih Bank Century. Terbukti kemudian bahwa sebelum rumor kalah kliring tersebut Bank Indonesia telah mengglontorkan dana untuk membantu Bank Century sebesar Rp.700 Miliar. Selain itu selama satu minggu sebelum pengambil alihan Bank Century – nasabah Bank Century telah dibatasi penarikan dana tunainya yakni sebesar Rp. 5 juta  per hari. Jadi kalau sudah begini apa salah kabar yang disampaikan oleh sales person Bhakti Investama tersebut.

Hermanus

Oke cerita saat ini bukan tentang si sales person itu. Tapi mengenai petinggi dari Bank Century… Kabar terakhir menyebutkan bahwa owner dari Bank tersebut bernama Robert Tantular telah ditahan Mabes Polri karena ditemukan indikasi bahwa ia telah melampaui wewenangnya dalam mengelola Bank Century. Direktur Utamanya yang bernama Hermanus Hasan Muslim kemudian menyusul juga masuk ke hotel prodeo. Dalam tele warta yang disiarkan Tvone diberitakan bahwa dugaan penyelewengan dana adalah sebesar Rp. 2 triliun …. Fuih gede banget ya.
Nama Hermanus Hasan Muslim merupakan namanya yang tidak asing bagiku karena dia merupakan atasanku saat kami sama-sama bergabung di suatu bank swasta lain sebelum dia hijrah ke Bank Century.

Interaksi kami sifatnya biasa-biasa saja layaknya antara atasan dan bawahan sampai suatu saat Bank kami mengalami gonjang –ganjing dan menjalankan rekapitalisasi tahap kedua khusus hanya untuk Bank dimana kami bekerja, untuk itu Pemerintah harus menyuntikkan dana sebesar Rp. 12 triliun. Saat itu pemilik lama dan sekaligus manajemen lama langsung disingkirkan Pemerintah, bahkan pemilik lama mendapat sanksi tidak boleh menjalankan bisnis perbankan selama 5 tahun. Nah dalam situasi itulah Hermanus Hasan Muslim yang biasanya kita panggil Hermanus mengalami peningkatan karir yang cukup tajam. Dari seorang Regional Manager dia langsung menjadi salah satu direksi dalam masa transisi (sebelum Pemerintah selaku pemegang saham mayoritas menunjukkan dewan direksi yang baru), waktu itu sebutan resminya adalah dewan pengurus.

Interaksiku secara langsung dengannya selaku dewan pengurus bermula dengan penilaian tahunanku sebagai karyawan. Waktu itu dalam situasi gonjang-ganjing akan masa depan bank kami, banyak nasabah yang menarik dananya dari bank kami. Bukan itu saja, nasabah kreditpun banyak yang membatalkan kreditnya baik dengan cara melunasi maupun dengan take over oleh bank lain. Nah jika teman-temanku sesama Branch Manager mengalami penurunan bisnis yang sangat signifikan maka hal itu tidak terjadi di cabang yang aku kelola. Bahkan lonjakan bisnis mencapai lebih dari 1000% sehingga dalam lembar penilaian  bagian kuantitatif  pencapaianku kalau mengingat istilah saat kuliah adalah straight A. Rupanya tidak semua orang senang pada pencapaianku termasuk atasan langsungku yang ngerjain aku melalui bagian kualitatif dalam lembar penilaian dimana pada point leadership aku mendapat penilaian yang kurang. Saat aku tanyakan pada atasan kenapa aku dinilai seperti itu, lucunya atasanku menyebut bahwa aku menunjukkan kepemimpinan yang kurang saat kami sedang berpameran di suatu mall untuk menjual kartu kredit. Yah pada saat itu kami memang berpameran di seluruh mall di Jakarta dan aku bertanggung jawab pada suatu mall di Jakarta Selatan. Dan kekuranganku adalah karena aku banyak ketawa-tawa dengan para SPG yang kami pekerjakan. Yah tentu saja menurutku kita memang harus menjalankan tugas dengan gembira mengingat kami harus bertugas sejak jam 10 pagi hingga jam 10 malam. Dan dengan cara melaksanakan tugas dengan gembira terbukti bahwa tim-ku sukses memenangkan kompetisi dalam menjaring calon customer terbanyak. Sungguh argument yang aneh. Dan yang menjengkelkan adalah nilaiku yang seharusnya 5 (atau A dalam skala 1-5) menjadi 4.99. Siapa yang tidak kesal mendapat penilaian nanggung seperti itu.

Saat aku mempertanyakan judgement atasanku itu maka dia menantang aku untuk menyuarakan ketidakpuasanku ke direksi karena dia tidak mau merubah penilaian sehingga hanya direksi yang berhak menampung keberatanku. My God… gila benar, masa sih untuk  penilaian seorang Branch Manager harus maju ke Direksi.

Tapi aku juga tak ingin membiarkan kezaliman terutama pada diriku sendiri terjadi. Karena waktu itupun sudah malam jadi aku memutuskan untuk menghadap Hermanus keesokan harinya. Malam itu aku sholat Tahajud dengan lembar penilaian aku letakkan di atas sajadahku. Aku ingat banget waktu itu aku hanya memohon kepada Allah agar diberikan pengadilan yang seadil-adilnya.

Keesokan paginya aku langsung ke lantai enam kantor pusat, sengaja aku datang pagi supaya tidak mengganggu kesibukan Hermanus. Dan memang ia menyambutku dengan ramah. Saat aku menjelaskan maksud kedatanganku dan ia memeriksa lembar penilaianku ia mencoba menghiburku dengan mengatakan betapa aku sangat berprestasi karena hanya aku yang mengalami peningkatan asset yang tajam saat cabang-cabang lain mengalami penurunan. Masalah kekurangan penilaianku yang besarnya 0.01 kiranya jangan diperbesar dan dipermasalahkan karena yang penting dia selaku direksi sudah mengetahui prestasiku. Aku hanya bisa terbengong saja, q’mon aku ini bekerja di industri terhormat pada suatu perusahaan peringkat 5 di Indonesia, masa sih aku harus berpegang pada judgement dan ingatan pribadi. Dia menjamin bahwa dia akan selalu ingat prestasiku itu. Karena penasaran akupun bertanya bagaimana jika ia sudah tidak jadi direksi lagi. Dengan tergelak dia mengatakan hal itu tidak mungkin terjadi. Aku sempet heran, apa dasarnya ia bisa begitu pede habis bahwa dia bakalan lama memangku jabatan itu.

Pada akhirnya akupun harus menyerah…waktupun berjalan dan tidak sampai sebulan kemudian ternyata Pemerintah memutuskan untuk mengganti  dewan pengurus dan Hermanuspun tersingkir. Hampir sebulan dia terkatung-katung, dewan pengurus yang baru tidak mau ambil pusing  untuk mencarikan posisi bagi dia. Akupun tergugu mengingat doaku dalam shalat tahajud serta pembicaraan kami tempo hari. Bagiku Allah telah menunjukan kebesaran dan jawaban langsungNya.

Akhirnya Hermanus menyingkir dari BII dan mendapatkan posisi di Bank Century. Akupun turut bersyukur karena akupun iba dengan yang dia alami satu bulan belakangan. Dari pembicaraan dengan senior-seniorku, mereka menyimpulkan bahwa response dia atas masalahku waktu itu tidak lain karena Hermanus memang bukan orang yang mau ambil resiko dalam hal ini tentunya menghadapi atasan langsungku. Dia pun juga merupakan orang yang terkenal selalu mau main bersih dan sesuai dengan peraturan, penyimpangan-penyimpangan tidak akan ditolerir.

Ditangkapnya Hermanus oleh polisi dan argument bahwa seorang  direktur utama bertanggung jawab dan tahu atas apa yang terjadi di banknya menandakan bahwa ada penyimpangan yang dilakukan dimana konon penyimpangan itu senilai Rp. 2 triliun. Waktu dan proses akan membuktikan apa yang sebenarnya terjadi  dan aku hanya bisa tertegun memikirkan bagaimana seorang pemain bersih mau berkotor-kotor jika itu menyangkut uang yang bernilai triliunan.

Rereposting – awal : September 2008, kedua  – 11 February 2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s