Kredit Mobil Menyelamatkannya dari Kredit Macet Bank…Kok Bisa?


Kasus Ryan Tumiwa lulusan S2 yang mengajukan permohonan izin suntik mati, kemudian kematian tragis dari aktor Hollywood Robin Williams menyadarkan kita bahwa di sekitar kita ada orang menganggap kematian lebih indah dari melanjutkan hidup. Manakala hidup itu terlalu sulit, hidup itu terlalu sempit. Padahal ternyata nyaris tiap orang pernah berada dalam situasi terbelit kesulitan, hingga kendatipun tercetus keinginan untuk mati tapi bukan opsi itu yang dipilih. Seperti kisah teman saya dibawah ini….

“Hidup segan, mati tengsin”, demikian status BB teman yang membuat saya tertawa dan segera menanyakan kepadanya maksud dari status tersebut. Teman saya mengatakan dia akan menjelaskan langsung. Tidak perlu waktu lama, dia sudah ada di depan pintu rumah lengkap dengan sebuah koper besar dan berat. Suaminya hanya mengantar sampai depan halaman dan segera meluncur pergi dengan kendaraannya.

“Whaat happen? Kunaon?”, saya langsung bertanya dengan heboh ala Meriam Belina di sinetron., sembari berprasangka mungkin dia cekcok dengan suaminya?

gresnews
gresnews

Dengan lunglai dia duduk di sofa, “Suamiku terlibat kredit macet gueede banget.” Berapa? “Dua puluh dua Milyar. Kebayang nggak nominal segitu macet-cet.” Teman saya itu yang 100% Ibu rumah tanggga benar-benar syok mendapatkan kabar dari suaminya. “ Rumah di Bandung kena, soalnya itu dijamininkan ke Bank.” Saya jadi ingat rumahnya itu karena terletak di kontour berbukit jadi dibangun berlantai tiga. Dari teras rumah, kita bisa menyaksikan keindahan dan keramaian kota Bandung. Saya pernah menginap dan merayakan tahun baru di sana, sungguh sangat nyaman. “Tapi kan semahal-mahalnya rumah itu paling maksimal harganya 5 Milyar, sisanya jaminan apa?”

debt management

Teman saya menjelaskan bahwa dia terkejut mengetahui suaminya sampai memakai pinjaman bank hingga Rp 22 Milyar. Dia pikir paling juga usaha suaminya maksimal memerlukan pendanaan bank Rp. 10 Milyar. Tak tahunya Partner usaha suami meminta perusahaan ekspansi besar-besaran dengan bermodalkan pinjaman bank hingga Rp. 22 Milyar, dia menambahkan jaminan sertifikat milik 11 anggota keluarga besarnya. Tak perlu waktu lama, dana pinjaman dari bank sebesar Rp. 22 Milyar itu raib seiring dengan menghilangnya si partner. Saya coba menenangkan perasaannya dengan mengatakan, “Yah berarti itu masih termasuk Secured Loan – pinjaman yang tercover jaminan. Paling ngga dalam hal ini kalian tidak akan dikejar-kejar penagih hutang dari Bank tapi pastinya kalian telah kehilangan rumah Bandung. Rumah Jakarta aman kan?”

Teman saya menghela napas dan mengatakan betapa si partner juga menyebabkan perusahaan mereka berhutang pada supplier dalam nominal nyaris Rp. 5 Milyar dan saat ini si partner juga sudah menghilang dari muka bumi. Supplier mengirimkan debt collector ke kantor suami teman saya. Mereka tidak kehilangan akal ketika tidak diberi izin masuk kantor itu. Tiap pulang dari kantor, mobil suaminya selalu dikejar motor para debt collector. Sudah beberapa kali suami teman harus masuk jalan toll untuk menghilangkan jejaknya. Saya tercengang dan tidak bisa menyalahkan perasaan teman yang lemah lunglai seperti itu. “Coba pikir, rasanya aku dah pingin mati tapi ya ga mungkin juga mati lagi banyak utang gini…apa kata dunia, bagaimana pertanggungan jawab di akherat?,” dia menggumam sedih.

Kredit mobil

Sekitar dua minggu teman saya menginap di rumah, sang suami menjemput. Mengharukan saat melihat mereka berangis-tangisan usai suami memohon maaf pada isterinya karena melibatkan dalam urusan pelik ini. Kami duduk bersama memikirkan jalan keluar dan terpikir menegosiasi ulang dengan pihak supplier dalam hal ini tentunya proporsional sesuai dengan prosentase saham yang dimilikinya. Ternyata mereka berbagi 50%:50% saham dengan si partner jadi total tanggung jawab suami teman seharusnya sekitar Rp. 2.5 Milyar. Negosiasi dengan suplier berjalan alot tapi akhirnya pihak supplier menerima penawaran teman saya tersebut. Pasangan suami isteri itu sepakat untuk menjual rumah mereka di kawasan Ampera dan mencari rumah yang lebih kecil di kawasan lebih sederhana. Sehingga ada sisa dana segar untuk pembayaran hutang kepada pihak supllier, meski belum full.

Dalam kebingungan untuk memenuhi kekurangan dana tersebut, pasangan suami isteri ini terpikirkan untuk menjual mobil keren mereka. Namun seorang teman menyarankan untuk menjaminkan mobilnya ke perusahaan jasa pembiayaan mobil. Sang suami sempat ragu apakah perusahaan pembiayaan mau menyetujui permohonan kredit mobilnya, mengingat dia sudah masuk dalam daftar hitam Bank Indonesia karena kasus kredit macetnya. Mereka menghubungi salah satu perusahaan pembiayaan mobil yang ada dan ternyata pihak perusahaan pembiayaan siap menerima permohonan mereka karena perusahaan pembiayaan tidak mengkaitkan fasilitas yang mereka berikan dengan data di Bank Indonesia. Dalam waktu singkat, teman saya memperoleh tambahan dana segar sehingga bisa membayar kewajibannya kepada pihak supplier.

Usai kejadian tersebut, pasangan ini berburu rumah dan menata hidup mereka kembali. Suami melanjutkan bisnis pribadi di bidang ekpor agribisnis yang sedikit terbengkalai karena dia sibuk mengurusi perusahaan baru bersama partner penipu itu. Untuk itu si suami menjaminkan mobil yang lain untuk tambahan modal kerja. Tidak perlu waktu lama bagi mereka untuk bangkit kembali apalagi nilai kurs dollar yang menguat membuat mereka menangguk tambahan rupiah yang cukup besar. Sehingga akhirnya pinjaman berjaminan mobil juga segera dilunasi.

Tapi hingga sekarang mobil menjadi bagian penting dalam usaha mereka, seperti bulan Oktober tahun lalu. Sebelum musim hujan datang, hasil pertanian harus segera dipanen karena tidak tahan dan berisiko gagal panen jika terkena guyuran hujan yang lebat dan lama. Selain hasil pertanian sendiri, mereka harus membeli hasil pertanian petani sekitar yang tergabung dalam program inti plasma usaha si suami tersebut. Ada 800 Kepala Keluarga petani yang bergabung, jadilah dua mobil keren pasutri ini kembali “disekolahkan” di perusahaan kredit mobil.

Pengalaman jatuh bangun akibat kredit ini membuat pasutri itu memiliki kebijakan tersendiri. Mereka tidak akan menjaminkan rumah untuk pinjaman modal kerja yang akhirnya malah menempatkan keluarga pada resiko kehilangan tempat berteduhnya. Apalagi meminjam uang dengan jaminan mobil ternyata lebih mudah dan cepat. Sekarang keluarga itu memiliki 4 mobil dimana 2 mobil tidak pernah diagunkan yakni sebuah mobil truk untuk alat usaha dan sebuah mobil lainnya untuk keperluan kantor. Dua mobil lain yang masing-masing dipakai suami dan isteri itulah yang rajin keluar masuk lembaga pembiayaan, tergantung keperluan.

Siapa sangka kredit mobil bisa sangat membantu usaha. Yang tadinya sifat dari kredit mobil itu sebagai pinjaman investasi jangka menengah > 1 tahun (memiliki mobil dengan sistim cicilan) bisa didayagunakan menjadi pinjaman modal kerja jangka pendek. Namun demikian tentunya diperlukan disiplin yang tinggi dalam mengelola dana yang diperoleh.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s