Akhir Hidup Yang Tragis dari Seorang Artis


Diangkut dari Blog terdahulu: daveenaar.com – 6 April 2012

Titin Sumarni Aktris/Bintang Film terkenal tahun 50an, yang akhir hidupnya sangat tragis.

Diceritakan oleh Bapak @Gunawan Suria Danu Ningrat :

Titin Sumarni Lahir Surabaya 28 Desember 1930 meninggal di Bandung 15 Mei 1966. Dia semasa hidupnya pernah menjadi aktris/bintang film terkenal yang kepopulerannya sempat mengalahkan aktris2 tahun 50an seperti Netty Herawati, Elya Rossa dll. Banyak yang jadi fans beratnya antara lain Bung Karno.

Titin Sumarni adalah keturunan trah Sumedang dilahirkan di Surabaya, debut pertama dalam perfilman dimulai tahun 1953 dengan judul “PUTRI SOLO”, dilanjutkan dengan beberapa film lainnya yang sempat “box office” waktu itu. Film terakhirnya “Janji” 1956 sesudah itu dia menghilang dari peredaran bak ditelan bumi.

titin

Pada awal ketenarannya ia bercerai dari suami pertamanya seorang pegawai negeri biasa. 5 kali dia kawin cerai dan dari masing2 suami memiliki 1 anak lelaki, salah satu mantan suaminya adalah seorang perwira tinggi namun selalu mengelak/tidak mengakui pernah jadi suami Titin Sumarni padahal dari buah perkawinannya lahir seorang anak lelaki.

Tahun 1966 secara tidak sengaja seorang wartawan menemukannya di salah satu rumah sempit di daerah “lampu merah” sekitar stasiun Kota Bandung, dan langsung menulisnya di koran Pikiran Rakyat waktu itu. Dia diketemukan dalam keadaan sakit parah, tidak berdaya, dirawat/diasuh oleh seseorang yang berprofesi sebagai mucikari dikenal dengan panggilan “mamih aceng”.

Menurut keterangan dia menderita penyakit kotor yang sudah sangat akut/stadium berat, dalam foto yang dimuat di koran PR orang-orang hampir tidak percaya bahwa itu adalah Titin Sumarni yang terkenal dengan kecantikannya.

Bagaikan kerangka hidup, tidak berdaya, hidup bersama ke 5 putranya mengandalkan belas kasihan orang dan sebagian kecil penghasilan yang diperoleh mamih aceng. Dulu sebagai aktris terkenal dengan kekayaannya, mobil lebih dari satu, beberapa bangunan rumah antara lain di jalan Dago, perhiasan emas-mutiara senantiasa menghiasi penampilannya, tapi sesudahnya dia hanya memiliki 4 lembar pakaian yang sudah lusuh demikian pula kelima putranya yang hanya memiliki beberapa lembar pakaian yang dikenakan bergiliran.

Mendapat kabar tersebut kakekku segera bertindak menjemputnya untuk dirawat di RS.Boromeous berikut kelima putranya ditempatkan di panti asuhan. Kakek bertindak demikian karena dia masih keluarga/trah kasumedangan. Hanya beberapa hari di Rawat akhirnya tanggal 15 Mei 1966 dia menghembuskan napas terakhirnya dalam pelukan kelima putranya.

Keesokan harinya jenasah diberangkatkan dan dimakamkan di Gunung Puyuh Sumedang dan “hanya” diantar tidak lebih dari sepuluh orang termasuk kakek, nenek dan kedua orang tuaku. Tidak nampak batang hidung mantan-mantan suaminya. Semoga peristiwa ini menjadi peringatan bagi artis2, biduan-ta, generasi sekarang. Peristiwa Titin Sumarni hampir identik dengan Tan Tjeng Bok.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s