Hanya Pecinta yang Sederhana


Sabtu pagi itu (24 September) pembicaraan kita di telpon  hanya menjadi semacam putusan terperih yang pernah  kurasakan dan entah bagaimana  caranya, siangnya aku sudah tiba di Gramedia Melawai. Ternyata ada peluncuran buku  thriller di sana, mengerikan banget apalagi ada pemutaran video segala….tiba-tiba kurasakan sesuatu membasahi legging putih yang kupakai dibalik gamis batik. Saat kuperiksa di Toilet….arggh, legging itu telah memerah saga oleh kucuran darah…belum masuk periode haidku dan darah itu darah segar bukan darah kotor. Aku bergegas pulang mengganti celana dan memakai pembalut (kebetulan adikku mendapat pembalut promo untuk malam hari yang jauh lebih panjang dan lebar. Ternyata tak butuh waktu lama buat menenggelamkan pembalut itu dalam kubangan darah…teman yang kuceritakan masalah ini minta agar aku segera ke RS dan disitulah akhirnya aku terbaring di UGD….seperti biasa dokter di RS ini bertindak cepat.

Sabtu malam…pulang, darah sudah tak sederas itu mengalir…aku ingat ini kali kedua aku mengalami ini, yang pertama sudah puluhan tahun lalu saat beban  skripsi terlalu berat…sepertinya inilah bukti bahwa aku mencapai tingkat stress yang tertinggi. Sobatku menemani, ah dua kali dia selalu di sisiku saat kumengalami kehancuran hati…waktu dengan Bill itu dimanapun dan kapanpun airmataku selalu menetes dan dia selalu bersedia kutelpon manakala ku tak bisa menghentikan airmataku. Dan sekarang, aku tak pernah mengeluarkan airmata di muka sobatku – kupikir kali ini aku akan kuat namun tubuhku membantahnya . Kali ini bukan lagi airmata yang keluar tapi kucuran darah…tak diundang dan tak terkendali. Malam itu sobatku meninggalkanku kembali ke kotanya…ternyata semalaman itu dia tak bisa tidur mengkhawatirkanku….pk 09 pagi dia telpon dan istirahat panjangku membuatku merasa ringan hati.

——————senin, 26  September 2011

Menjalani aktifitas, kali ini memilih untuk naik kendaraan umum dan bukan taksi karena aku begitu takut pada kesendirian…lebih baik aku mencium seribu aroma, mendengar riuh celoteh dan nyanyian pengamen,merasa  kepanasan ketimbang duduk sendiri dalam taksi yang sejuk. Aku malah sempat berpikir panjang tentang kami – semalam itu temanku menyesali begitu percayanya aku akan ucapannya…

“ah kau kenapa tak belajar dari kesalahanmu untuk terlalu percaya pada janji seorang lelaki.” Akh, kau sendiri juga lelaki, apa kau tak bisa dipercaya? Sanggahku….dia hanya menatap tajam.

Janjimu dan kesadaranku….kesadaranku akan posisi dan jarak kita-lah yang mengantarkan  ke kotamu. Hal yang kupikir mudah tuk dikatakan ternyata terbelenggu oleh rasaku…rinduku, rasamu dan rindumu…dan setelah kita berpisah…kau mengatakan beratnya beban di punggungnya, kau siap buat dicaci maki tapi tak siap jika aku yang dicacimaki….dan aku merasa ditinggikan mendengarnya.

Tapi telpon kita menyadarkan aku betapa realistisnya kau…aku seharusnya berbesar hati menerimanya tapi siapakah yang bisa menipu rasa…aku tergugu dan kaupun demikian.

Dalam bis itu kupikirkan segalanya….nasehat orangtua?? Sebagai orang yang sudah jauh lebih lama bersama orangtua, sebagai seorang yang selalu mengamati hubungan orangtua dan anak…aku ingin meneriakan padamu…orangtua tak selalu benar, orangtua tak selalu tahu yang tepat bagi anaknya… tiga pernikahan pada saudara kandungku adalah buktinya…restu orangtua bukanlah jaminan kebahagian rumahtangga. Yang penuh restu dari orangtua bahkan kakek-nenek yang menjodohkan malah nyaris bercerai dan sarat pertengkaran. Yang mendapat restu ½ hati dari orangtua malah langgeng dan  mencapai puncak kejayaannya. Aku tak meremehkan orangtua tapi aku jadi mengerti orangtua juga manusia biasa yang memiliki kekurangan dan kelebihan…terkadang orangtua merasa bahwa dia-lah yang paling tahu apa yang tepat bagi anaknya…

Dan aku jadi ingat adikmu…bukankah pernikahannya penuh restu dan tawa bahagia, tapi dalam bilangan bulan telah muncul derita… Bagaimana dengan adikmu yang satu lagi, apakah pernikahan akan menjadi pemecahan bagi masalahnya? Masalahnya akan tetap ada dan kasihan sekali jika isterinya harus menangani permasalahan adikmu itu sendiri karena orangtuamu sudah memasrahkan adikmu pada isterinya…

Saat kau katakan bahwa kau realistis pada jarak kita…aku tak bisa bilang apa-apa, itulah yang kupikirkan bahkan pernah kutuliskan. Tapi dilain pihak aku ingat pada dua lelaki sebayamu yang pernah mendekatiku dan saat kutolak, seorang meyakinkanku bahwa usia adalah haknya Sang Maha – belum tentu aku mati duluan, bisa jadi dia duluan yang mati. Sementara yang lain berkata, “Pikiranmu membatasi langkahmu Veen, aku tak pernah mempermasalahkan itu.”  Saat pertamakali berkenalan, aku tak pernah berpikir bahwa kau adalah bocah, kupikir kau pria lain yang berusia 40 tahun….huuueh, salah pengertian akibat mbah google. Pada saat kenyataan itu kutahu, bukankah sudah kukatakan  aku ingin mundur dan sebaiknya kita berteman saja. Tapi kau menolak dan katakan akan menyeberangi jurang perbedaan itu. Bukankah beberapa kali sering terlontar ucapku bahwa aku akan mati duluan…

Hingga  aku sampai pada keputusan mengikuti ujar Kahlil Gibran ,

“Aku akan menyerah pada Cinta…kemanapun itu akan membawaku.”

Aku sekedar pecinta yang sederhana yang hanya ingin selalu bersama memadu kasih, bertukar rasa dan pikir, bersenda gurau maupun menangis bersama merajut hari demi hari. Waktuku lebih singkat dari waktumu

 ——————now

Saat ini aku terluka dan berduka….aku tak menyalahkanmu, sebab kutahu kaupun terluka dan berduka….

Advertisements

2 comments

  1. setiap kubaca tulisanmu kawan, kadang aku merasakan kegembiraan yang menyala-nyala, tapi disisi lain, kadang kau seperti berteriak keras minta tolong dalam ruangan yg kosong….

    • hmm begitulah konsekwensinya menjadi blog ini sebagai rumahku …dimana aku bisa melepaskan setiap bulir rasa…jika kusenang kau akan merasakan letupan kegembiraan, jika kusedih maka kau akan merasakan tetes airmataku…
      tapi disinilah kau akan melihat bhw aku adalah manusia dengan rasa…met hari jum’at met beraktifitas…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s