The Believer


*) Persahabatan antar dua insan beda agama yang malah menguatkan persahabatan dan keimanan agama masing-masing …

Pagi itu saat Riris yang sedang duduk di sebelahku sedang berbicara di telpon, sampai terdengar nyaring teriakan si penelpon di ujung sana. Setelah meletakkan gagang telpon perlahan; dia berkata “Barusan suamiku marah-marah….”. Karena dia sudah membuka percakapan maka aku bertanya kenapa suaminya marah. “Dia marah-marah karena aku belum ada closingan.” Aku hanya terbengong dan menjawab : “Weits dia ngelebihin boss kita nih.”

Yap, boss kami yang high temper aja tidak pernah marah-marah ke kami kalau tidak ada closingan (dia high temper ke staf-staf non marketing) sebab dia tahu hari-hari gini sangat susah mendapatkan klien yang mau taruh dananya di perusahaan investasi dan asset manajemen. Krisis financial global telah memporak porandakan dunia keuangan; berbagai kejadian buruk dari pengelolaan investasi makin menambah kekusutan misalnya di Indonesia ada kasus Sarijaya, Bank Century dan belum lagi investasi abal-abal yang banyak beredar.

Aku terheran-heran sebab selama ini konsepku dan kebanyakan teman-teman lain bahwa dalam rumah tangga double income; umumnya pencari nafkah utama adalah sang suami, sang isteri membantu. Padahal suaminya bekerja di bank terbesar di Indonesia. Trus kenapa dia ngejar pendapatan isterinya sedemikian rupa.

Riris sendiri sebenarnya merupakan top performance di perusahaan kami, tapi yah itu , krisis financial global telah membuat langkah kami jadi melambat. Riris cerita bahwa minggu ini mereka harus sedia dana cukup besar yakni sekitar Rp.25 juta untuk memasukkan salah satu anaknya ke sebuah sekolah swasta ternama. Sebenarnya suaminya memiliki dana itu tapi akan dipinjamkan ke kakaknya.

Semalam saat Riris berusaha mengingatkan sang suami, malah dibalas dengan caci maki dan itu dilakukan di depan anak-anak mereka. Putra Riris yang baru berusia 13 tahun (cerita tentang dia pernah ditulis di: Mr P ala Mak Erot Modern) berusaha membantu si ibu tapi sang ayah malah tambah marah, kata Riris; suami dan anaknya sempat berhadap-hadapan serta akan baku hantam sehingga Riris harus menarik dan membujuk putranya. Sedangkan gadis kecil mereka cuma bisa menangis melihat drama ini. Dan ini bukan merupakan kali pertama….

Cerita Riris kembali ke sekitar 15 tahun lalu saat Riris usai menamatkan kuliahnya dan mulai bekerja. Seorang gadis batak yang cantik, perawakan proporsional , kulit putih mulus. Berbeda dengan tipe Batak yang umumnya memiliki garis wajah keras, hidung besar (maaf ito-ito jangan tersinggung). Muka Riris yang cantik berbentuk lancip dan mulus dengan hidung mungil nan bangir..masih ditambah dengan kelakuannya lembut (sehingga di kantorpun dia dijuluki Batak Aspal) tidak heran banyak kumbang yang menghampiri, apalagi cowo-cowo Batak

Ada seorang cowo Batak yang aktif mendekati dan rajin mengajak makan siang bersama. Riris gadis yang masih konservatif selalu membawa teman. Sampai akhirnya si cowo Batak itu ingin main ke rumah. Riris minta izin dulu ke mamaknya, tapi begitu si mamak mengetahui marga si cowo-beliau langsung menolak dengan alasan sudah sejarah Batak bahwa kedua marga tidak boleh dipersatukan dalam perkawinan. Riris sebagai anak berbakti langsung mematuhi permintaan mamaknya. Tak lama setelah itu muncul cowo Batak lain yang agresif mendekatinya; sangat-sangat agresif sehingga dia merasa yakin bahwa cowo ini benar-benar serius. Dan akhirnya merekapun menikah. Cowo Batak yang pertama jelas patah hati, dia memutuskan untuk melupakan Riris dengan melanjutkan sekolahnya di Amerika.

Segera setelah mereka menikah, mereka pindah ke luar Jawa karena suami yang bekerja di suatu bank mendapat penugasan disana. Bulan madu hanya berjalan sebentar karena begitu putra pertama lahir, sifat kasar suami keluar. Dan bayangkan di luar Jawa sana Riris cuman sendiri (seluruh keluarga besar ada di Jakarta); selain sumpah serapah yang harus diterimanya, tidak jarang kekerasan fisikpun harus dirasakan.

Tiga tahun di luar Jawa, suami akhirnya ditarik kembali ke Jakarta. Keluarga besar Riris tentu sedih mendengar ceritanya, sampai-sampai salah satu abang Riris sempat menyalahkan mamaknya yang terlalu memegang teguh adat secara membabi-buta. Si mamak tentunya merasa sangat bersalah sehingga jadi sering menangis. Mantan cowo Riris telah menyelesaikan studinya dan saat itu sudah kembali ke Jakarta dan bekerja di sebuah oil company. Dengan pasrah dia menerima perjodohan yang disodorkan keluarganya demikian berita yang didapat Riris dari sahabat mereka.

Sesampai di Jakarta, sang suami meminta Riris untuk bekerja membantu perekonomian keluarga. Riris pun kembali bekerja dan tidak lama kemudian Riris hamil anak kedua, dan hal ini tidak menyurutkan kekerasan suaminya. Kali ini mamak bisa tahu langsung, dan ini membuatnya sering menangis- anak cantiknya sudah rajin bekerja, masih harus melayani suaminya tapi harus dikasari pula. Akhirnya lahirlah si anak kedua seorang putri cantik. Kedua anak tumbuh sehat dan cerdas karena walaupun selalu ada kekerasan terhadap Riris, suaminya jarang melakukan kekerasan ke anak-anak mereka. Tiap kali anak mereka ikut menangis menyaksikan penderitaan ibunya, Riris selalu membawa mereka dalam doa, yah Riris seorang Kristen Protestan yang taat. Sebenarnya doa Riris selalu didengarNya; dua kali suaminya dihadiahi penyakit tapi bukannya tobat begitu sehat suaminya kembali kasar.

Sang mantan yang tidak memiliki anak dari perkawinannya yang percaya hal ini disebabkan dia tidak pernah mencintai isterinya juga mendengar kabar mengenai Riris. Sehingga dia menawarkan Riris untuk kabur ke Singapura dan bekerja disana, si mantan akan memfasilitasi (saat itu sampai sekarang si mantan telah menjadi direktur di suatu perusahaan oil company). Penawaran diberikan melalui sahabat mereka..tidak ada kontak langsung antara Riris dan mantan. Tentunya Riris tidak percaya begitu saja; jadi dia menanyakan apa imbalan yang harus diberikan?. Si mantan berjanji dia tidak minta imbalan apa-apa dan sebenarnya Riris percaya itu karena si mantan juga seorang yang taat beragama; seorang yang memang baik, tulus dan takut akan Tuhan.

Tapi yah itu Riris ingat akan firmanNya bahwa yang sudah dipersatukan Tuhan tidak boleh dipisahkan manusia. Riris makin tekun berdoa agar suaminya dimaafkan dan dikembalikan ke jalanNya. Doa Iis kembali didengar, kali ini suaminya di”hadiahiNya” penyakit stroke. Terbaring tidak berdaya di rumah sakit selama berbulan-bulan , Riris kembali menunjukkan kesetiaan dan baktinya.

Saat itulah Riris bergabung dengan perusahaan tempat aku bekerja. Di tempat kami sudah ada beberapa teman Batak yang ketika bertemu dengan Riris langsung jadi akrab dan semua memanggilnya kakak karena diantara mereka dia paling tua. Bahkan lama-lama panggilan itu berubah jadi Eda – sebenarnya itu hanya panggilan perempuan ke perempauan tapi di kantorku cowo-cowo Batakpun ikut memanggilnya Eda. Sedangkan denganku dia juga langsung klop bahkan kami banyak bercanda; baru di kantor kamilah dia katanya bisa ketawa terbahak-bahak, sesuatu yang sudah lama dilupakannya..

Tidak membutuhkan banyak waktu baginya untuk mencapai top performance; satu closingannya menghasilkan komisi ratusan juta. Dan sebagai umat Kristen yang taat dia menyisihkan perpuluhannya (10% dari penghasilan) dan pilihannya adalah gereja di pedalaman. Karena dia berpikir disanalah masih banyak membutuhan bantuan sedangkan gereja-gereja di kota-kota besar sudah pasti banyak yang membantunya. Saat hal ini disampaikan pada suaminya yang sudah pulih kesehatannya, dia langsung meledak. Membodoh-bodohi Riris; dengan menyumbangkan ke pedalaman maka tidak ada akses pengawasannya, sudah pasti dana itu akan diselewengkan.

Saat Riris mengingatkan suaminya untuk menurunkan emosinya; si suami malah bilang kalau sampai dia kumat strokenya maka semata-mata itu karena kesalahan Riris. Anak-anak Riris sampai mengingatkan ibunya supaya lain kali jika menyumbangkan perpuluhannya tidak usah menginformasikan ke ayah mereka.

Aku sangat heran akan kesabaran tanpa batas dari seorang Riris, sebagai seorang muslim yang tentunya hanya sedikit paham akan ajaran Protestan aku menanyakan padanya mengapa dia tidak memikirkan opsi perceraian saja toh setahuku salah satu boss yang beragama Protestan juga bercerai dan sudah menikah lagi. Riris menjelaskan bahwa hal itu salah karena itulah sesuatu yang sudah dipersatukan Tuhan tidak bisa dipisahkan oleh manusia. Riris makin rajin mendekatkan diri ke Tuhan. Tidak hanya datang ke persekutuan doa, di tasnya kulihat tergeletak al Kitab yang sudah kucel karena sering dibaca. Melihatnya aku jadi malu dan pulang kantor aku langsung cari al Quran kecil dan terjemahan yang bisa masuk tas serta stabillo.

Kami suatu saat berdiskusi mengenai Israel dan Palestina, dia menyatakan salah jika selama ini Israel dianggap Kristen. Karena sewaktu mengikuti wisata rohani kesana ternyata mereka tidak boleh ketauan sedang pegang rosario, dan orang Israel tuh mengharamkan daging babi dan sapi. Saat aku membuka al Quran banyak sekali bahasan mengenai Israel yang kurang lebih mendukung informasi Riris.

Aku sekarang menggiatkan kembali kegiatan belajar agamaku. Hem Riris dengan caranya telah mengasah keimananku kembali…. aku bersyukur persahabatan kami membawa ke arah yang lebih baik

Aku juga sering mendoakan Riris dan kedua anaknya yang juga kukenal agar mereka baik-baik saja jangan mengalami gangguan pertumbuhan mental seperti Yudha dalam ceritaku mengenai V Eater vs Ms Blow Job. Sedangkan si mantan cowonya, kabarnya sekarang pindah kerja ke Amerika tanpa membawa isterinya.

*Catatan di tahun 2009

Advertisements

4 comments

    • yuup dan biasanya tidak diizinkan….tapi saya pernah diskusi dengan della ana di salah satu artikel tulisan rafael bhw di negara eropa dan amerika…gereja tidak membatasi perceraian itu

  1. hmmm. Kalau saya gak tau latar belakangnya riris gak mau cerai dari suaminya,sy pasti udah menyangka mbak riris ini agak ‘gila’ atau gimana gitu,kok mau2nya. Tp trnyata itu wujud ketaatan pada Tuhan,yg bikin sy jd malu sendiri nih. Hehe. Anyway jd inget kutipan nih mbak veen, ‘if one person suffer from delusion,its called insanity. If many persons suffer from delusion,its called religion ‘ hehe. Trlalu keras sih mmg,tp yeah pasti kutipan macam itu ada latar belakangnya. Alhamdulilah ya,di islam boleh cerai. Yippie ! Hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s