Wanita Berhati Kupu-Kupu


Jadi kaget sendiri saat buka diary besarku soalnya sebulan belakangan ini aku lebih suka pakai buku kecil yang bisa masuk dompet. Kaget sebab ternyata pas 17 Agustus (nyaris dua bulan lalu) aku menulis mimpi ku yang komplit banget, mimpi yang sedikit berubah dari master plan karena kehadiran seseorang yang perlahan mulai mengambil tempat di hatiku.

Sebenarnya cuman mimpi yang simpel banget dan mungkin sedikit norak, coba bayangkan…aku cuman pingin hidup tenang ma dia dan punya kolam lele (hah ini jadi keinget lagi gara-gara Farah Queen masak lele di kolam lele pas hari Minggu kemarin). Trus tiap pagi and siang kami urus bareng (ah dia aja yang ngurus) soalnya aku sibuk ngurusin  klienku via telpon  sembari masak di dapur kami yang luas dan jadi center of the house, siangnya tuh lele dimakan sendiri juga …hahaha( sebagian besar buat dijual ). Akh  bahkan sampai kutulis cara  kupanggil dia ntuk makan siang…..”Ayaaaang…”, nih gara-gara liat Jali dipanggil bininya pas kita liburan bareng di Puncak…trus biasa deh sempet-sempetnya Kendi protes. “Weeks jadul beeng panggil-panggil Ayang….sekarang zamannya manggil beib lagi.”

Nah sesorean sampai malam  kita masuk ke rumah kayu campur batu alam besar dan sibuk nulis sesuai minat masing-masing just like novelis Primadona Angela and hubby. Ide rumah dan pembangunannya dah ada kompasianer yang berbisnis itu dan kita sering tukar pikiran, ntuk urusan kolam lele ada teman yang dah sukses menjalankannya dan akupun sudah beli tuh buku.

Sementara ide kolam lele itu pernah aku share ke klien eh terus dia bilang, “ya udah ntar saya ajak teman-teman saya buat modalin kamu, kita bicara M ya,” waaks kolam lele berubah jadi industri? Dah gitu ntarnya IPO pula…hahaha.

Ah impian simpel itu pergi kemana…akhir-akhir ini aku seperti kehilangan fokus akibat banyak gangguan- yah apalagi kalau bukan karena si cacing, si virgil dan satrya. Malah akhir-akhir ini aku merasa ada jarak dengan si simple itu…entah aku yang menjauh secara tak sadar ataukah dia mulai tak simpel dan berpikiran rumit. Padahal aku dah pernah pesen…“jangan berubah.” Itu keinginan yang absurd ya karena yang paling abadi di dunia ini adalah Perubahan itu sendiri… Lagipula hatiku sendiri sering terbang sana sini seperti kupu-kupu menikmati bunga-bunga indah di taman sampai lupa bunga di taman hati..

baru aja baca tulisan relevan buat introspeksi:

http://radityadika.blogdetik.com/2010/10/06/pdkt-di-era-media-sosial/

dia mengutip :

tread softly because you’re tread on my dream – william butler

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s